Tampilkan postingan dengan label Jejalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Februari 2011

Wildlife Management

Saya tidak pernah bilang kalau saya memiliki passion untuk melakukan outdoor activities. Percayalah kawan, saya adalah 99% anak rumahan, yang bisa bertahan hidup asalkan ada sebongkah televisi berwarna dengan minimal 10 channel dan setidaknya ada 3 jenis snack yang berbeda setiap harinya. Saya ingat betul, terakhir kali saya doing something di luar ruangan adalah saat saya KKN antar semester kemarin. Sisanya selama 6 bulan terakhir ini saya mengejar sejumlah target akademis yang, Alhamdulillah, saya berhasil mencapai target tersebut. Meskipun, sedari dulu saya sangat menyadari bahwa mengejar tujuan akademis bukanlah segala-galanya. Terbukti ada sesuatu yang saya rindukan dalam 6 bulan terakhir ini.

Maka, menjadi sebuah angin segar bagi saya ketika seminggu yang lalu saya mendapatkan ajakan dari teman saya, Munadi, untuk mendaki Gunung Lawu bersama kedua teman saya yang lain, Indra dan Satria. Hell yeah, dengan mantap saya menerima ajakan tersebut. Sudah pasti saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. This will gonna be fun, gumam saya dalam hati. Padahal saya tidak tahu kalau nantinya pendakian ini akan menjadi sebuah mimpi buruk yang menyenangkan.

Pendakian di Gunung Lawu ini akan menjadi pendakian pertama dalam hidup saya. Selain itu, hal lain yang menarik adalah kami berempat (saya, Munadi, Indra, dan Satria) sama-sama berasal dari Jurusan Manajemen, namun masing-masing dari kami mewakili empat konsentrasi yang berbeda. Saya sendiri dari manajemen pemasaran, Munadi dari manajemen keuangan, Indra dari manajemen sumber daya manusia, dan Satria dari manajemen operasi. Sepertinya akan sangat menarik jika melihat pendakian ini dari masing-masing perspektif konsentrasi yang kami ambil. Terkesan lebay mungkin. Tapi, hey, kami berempat adalah mahasiswa tingkat akhir yang tak lama lagi akan memasuki kejamnya dunia yang sebenarnya. Jadi tak ada salahnya kami menjadikan pendakian ini sebagai pijakan awal untuk menuju ke sana, bukan?

Pendakian ke Gunung Lawu ini hanya memakan waktu 3 hari 2 malam (20-22 Feb 2011). Namun entah mengapa bagi saya itu menjadi perjalanan yang panjang. Sehingga saya berencana menuliskan pendakian ini ke dalam empat bagian cerita pendek. Cerita, lho, bukan artikel perjalanan. Jadi jangan kaget kalau nanti tulisan saya cenderung deskriptif daripada informatif.

Part 1: Minggu, 27 Feb 2011
Part 2: Senin, 28 Feb 2011
Part 3: Selasa, 1 Mar 2011
Part 4: Rabu, 2 Mar 2011

Sepertinya ini akan terasa berat bagi saya. Sudah sekian minggu saya tidak menulis blog. Apalagi belakangan ini saya diserang penyakit malas. Skripsi tak kunjung dimulai (baru minggu depan), malah maraton nonton How I Met Your Mother. 

Tak apalah, saya coba saja. Sepertinya akan menjadi cerita yang panjang...



Minggu, 21 Februari 2010

Ujung Genteng Travel Report 2010

Saya melakukan perjalanan bersama teman saya, Agra, pada 22 Januari 2010 kemarin di Pantai Ujung Genteng, Sukabumi Selatan, Jawa Barat. perjalanan ini memberi kesan tersendiri bagi saya, karena ini pertama kalinya saya berinisiasi mengadakan perjalanan sendirian.

Mungkin perbedaan travel report kali ini dibandingkan dengan travel report sebelum-sebelumnya adalah, saya menulis report ini dengan sesingkat mungkin. Mungkin karena saya masih berada dalam proses pemulihan dari penyakit “malas nge-blog”.

Di dalam travel report ini, bisa dilihat bagaimana proses awal mula perjalanan saya hingga bisa sampai ke daerah Sukabumi selatan lewat catatan: Prolog. Sebelum sampai di Pantai Ujung Genteng itu sendiri, saya dan Agra menyempatkan diri mampir ke Curug Cikaso, yang dituliskan dalam Cuaca Cerah Curug Cikaso. Esoknya, Kami pun menghabiskan satu hari (minus setengah hari karena hujan) dengan bermain-main di Sepanjang Ujung Genteng. Terakhir, saya punya satu keinginan yang harus dikabulkan sebelum saya kembali dari Ujung Genteng, yaitu saya Harus Bertemu Penyu!

Namun ternyata perjalanan kali ini memberi suatu pengalaman tersendiri bagi saya karena ternyata ada berbagai hal yang membuat saya merenungi, apakah saya mendapatkan sesuatu dari perjalanan ini, karena tiba-tiba saya merasa bahwa Saya Pejalan Gagal. Ini adalah sebuah curhatan yang terselip dalam Travel Report, hahaha...

Akhir kata, semoga Travel Report kali ini mampu memberi inspirasi bagi Anda semua. Saran selalu saya tunggu, Kritik pun akan saya terima. Syukur-syukur kalau Anda mau mengajak saya jalan-jalan, hehehe...

Harus Bertemu Penyu!

Hari terakhir saya di Ujung Genteng, saya merasa gondok. Saya gagal melihat penyu bertelur malam hari karena hujan, saya juga gagal melepas penyu saat senja karena (lagi-lagi) hujan. Padahal salah satu tujan saya ke Ujung Genteng adalah untuk melihat-lihat penyu.
Kalau saya pulang dari Ujung Genteng dan belum melihat penyu, saya bakalan mati penasaran, nih!

Akhirnya saya membujuk Agra untuk mampir ke Penangkaran Penyu di Pantai Pangumbahan sebelum saya pulang. Tak masalah saya tak bertemu dengan penyu, asalkan saya sudah mampir ke tempatnya.

Medan menuju ke Pantai Pangumbahan cukup susah bagi motor bebek yang kami tumpangi. Jika musim kemarau kita harus berhati-hati agar tak terpeleset terselip oleh pasir pantai yang cukup banyak. Jika musim hujan kita harus berhati-hati agar tak terjerumus ke dalam lumpur. Dan kami adalah salah satu korban yang terjebak ke dalam lumpur tersebut, haha...

Begitu kami tiba di Penangkaran penyu Pangumbahan, kami bertemu pak Asep, penjaga penangkaran tersebut. Kami lantas membarat 5000 rupiah sebagai retribusi, lantas kami mengobrol sebentar dengan pak Asep. Beliau menyayangkan kami datang tidak saat sore atau malam di mana kami bisa melepas penyu atau melihat penyu bertelur. Lantas beliau pun mengeluarkan baskom berisi sejumlah anak-anak penyu,“biar kalian bisa foto-foto”, kata Pak Asep. Ah, pak Asep tahu saja kebutuhan kami, hahaha...

Penyu memang unik, setelah bertahun-tahun dilepas di lautan luas, ia akan kawin dan bertelur di pantai yang sama. Setelah bertelur pun nantinya penyu tersebut akan kembali ke pantai yang sama untuk bertelur lagi. Jika ingin melihat penyu bertelur di malam hari, tidak diperbolehkan membawa senter atau sumber cahaya lain. Selain itu, datangnya penyu tak dapat diterka, kadang jam 12 malam, atau kadang kita harus menunggu hingga jam 3 pagi!

Menurut cerita Pak Asep, Penangkaran penyu Pantai pangubahan sebenarnya mulai berada di bawah Departemen Kelautan dalam beberapa tahun terakhir ini. Padahal Penangkaran ini sesungguhnya telah berdiri sejak 30 tahun yang lalu namun dipegang oleh swasta untuk keperluan jual beli telur penyu. Sekitar tahun 90an, mulai dilakukan penangkaran sekitar 50% dari telur penyu yang ada, sementara 50% yang lain diperjualbelikan. Sejak beberapa tahun yang lalu jual beli telur penyu mulai dilarang demi mencegah kepunahan, dan akhirnya penangkaran penyu Pangubahan pun berada di bawah departemen kelautan dan penangkaran telur penyu dilakukan 100%. Bahkan dapat dibilang penangkaran penyu Pangumbahan ini termasuk yang terbaik dan akan dijadikan model bagi penangkaran penyu di daerah lain di Indonesia.

Setelah puas bermain-main dengan anak penyu, saya dan Agra sempat mampir ke Pantai Pangumbahan itu sendiri. Dan pantai ini sendiri memiliki pasir putih dan jauh lebih bersih dibandingkan pantai-pantai lain di sepanjang Ujung Genteng. Kalau sudah ke penangkaran penyu dan Pantai Pangumbahan, saya tak perlu takut lagi jika nantinya saya mati penasaran, hahaha...




Sepanjang Ujung Genteng

Sepulang dari Curug Cikaso hari sudah mulai sore. Saya dan Agra pun menuju Ujung Genteng. Jangan harap sepanjang perjalanan kami melihat pemandangan matahari senja, karena cuacanya sedikit mendung. Pertanda akan turun hujan nanti malam. Padahal kami berencana ingin melihat penyu bertelur di Penangkaran Penyu nanti malam.

Kami menginap di Losmen Deddy seharga IDR 150.000 per malam berupa pondok satu kamar untuk dua orang dengan kamar mandi di dalam. Harga awalnya lebih mahal, tetapi karena Agra sebelumnya pernah menginap di Losmen ini, dia pun bisa menawar hingga 50%!

Sebelum malam, kami sempat bermain-main di pantai karang Ujung Genteng. Maksud hati ingin mendapat senja, apa daya mendung menghadang. Kami pun bermain dan mengambil gambar ala kadarnya.

Kami makan malam dengan mie rebus di warung mi depan losmen. Dan sepertinya ini akan menjadi makanan kami hingga besok, karena harga warung nasi dengan ikan di daerah ini tidak murah. Sementara malamnya hujan deras. kami pun tak jadi melihat penyu bertelur di penangkaran penyu. Lantas apa yang kami lakukan? Mbathang di kamar bermain hape sepanjang malam. Menyesal saya tidak membawa semacam buku bacaan...

***
Pantai Ujung Genteng cukup panjang. Membentang dari Dermaga Tua hingga Cibuaya. Kontur dari pantai Ujung Genteng sendiri cukup beragam. Ada yang berupa pantai landai dengan pasir yang cukup putih, ada pula yang banyak karang, bahkan kita bisa bermain hingga ke tengah.
Maka hari berikutnya kami habiskan untuk bermain-main di sepanjang pantai Ujung Genteng. Paginya, setelah kami sarapan dengan nasi kuning dan sepotong tahu, kami segera menuju Dermaga Tua.

Dermaga Tua buat saya cukup menarik, entah mengapa. Mungkin karena reruntuhan sisa dermaga yang bercampur dengan pantai membuat area ini sangat menarik untuk dijelajahi. Apalagi didukung dengan langit pagi yang cerah, tempat ini pun menjadi cukup sempurnya untuk diambil beberapa gambarnya.

Dari Dermaga Tua ini kita bisa melihat dua sisi Ujung Genteng, sisi sebelah barat yang berupa pantai, dan sebelah timur yang terdapat kampung nelayan dan pelelangan ikan. Cukup banyak nelayan yang mencari ikan di sekitar area Dermaga Tua ini. Mereka juga bisa memancing di ujung dermaga yang menjorok ke tengah laut. Sementara saat saya ingin ke ujung dermaga, saya terhalang oleh reruntuhan dermaga yang cukup licin.


Sepulang dari dermaga tua, kami menyusuri pantai Ujung Genteng menuju Pantai Cibuaya. Ini juga merupakan perkampungan nelayan. Kami sempat mampir ke warung kopi sebentar, sementara Agra sempat mengobrol dengen beberapa warga di warung kopi. Sekedar mengetahui jalur ke Penangkaran Penyu dan beberapa tempat menarik lainnya.

Cukup mengasyikkan menghabiskan waktu sekitar pukul sepuluh siang dengan minum kopi di Kampung Nelayan Cibuaya.

***
Siangnya kami sholat Jum’at di sebuah masjid di dekat pelelangan ikan. Namun kami telat, Sholat Jum’at telah selesai dan kami pun hanya sholat Dzuhur. Setelah ini kami berencana beristirahat sebentar, dan sorenya akan kami berencana ke Penangkaran Penyu untuk melepas anak penyu, dan malamnya kami berencana menyaksikan penyu bertelur di Pantai Cibuaya.

Tapi semua rencana tersebut dalam sekejap berubah menjadi kentut. Hujan deras melanda Ujung Genteng dari sore hingga malam. Saya benar-benar mbathang di kamar. Mau apalagi, ini resiko melakukan perjalanan musim hujan...

Cuaca Cerah Curug Cikaso

Saya dan Agra tiba di desa Surade pukul dua siang. Setelah makan siang di sebuah warung, kami memutuskan untuk mampir ke Curug Cikaso yang berada sekitar 10 km dari Desa Surade. Pertimbangan kami, selain waktu masih jauh dari senja, langit juga tidak terlihat mendung. Sebuah kondisi cuaca yang jarang dijumpai saat musim hujan. Jadilah kami merasa saat itu merupakan waktu yang tepat untuk mampir ke Curug Cikaso.

Saat tiba di pintu masuk, kami tidak langsung dihadapkan pada lokasi Curug, tetapi ada dua pilihan jalan yang bisa dilakukan, apakah berjalan kaki sekitar 10 menit melalui jalan setapak di sawah, atau menyewa perahu untuk menyusuri sungai Cicurug seharga IDR 80.000/kapal dengan kuota maksimal 12 orang. Tentu saja kami awalnya memilih menyusur jalan setapak karena harga kapal yang tak masuk akal jika hanya ditumpangi kami berdua. Tetapi setelah para ojek kapal membujuk dengan harga 35.000 untuk kami berdua, kami pun terbujuk dengan rayuannya. Alasan saya sendiri, sih, saya penasaran dengan suasana menaiki kapal menyusuri sungai Cicurug.

Oke, sangat menyenangkan menyusuri sungai Cicurug yang hijau dan dengan hutan di kiri-kanan sungai. Tapi yang membuat saya gondok setengah mati, ternyata jarak dari pintu masuk menuju Curug Cikaso hanya ditempuh selama 1 menit saja. Mau tak mau jika dibandingkan dengan harga perahu yang kami bayarkan tadi, ternyata sangat mahal!

Curug Cikaso merupakan air terjun yang bersal dari sungai Cicurug (ci berarti sungai, curug berarti air terjun), tetapi banyak orang yang menamainya Curug Cikaso karena aliran air terjun ini akan bertemu dengan sungai Cikaso yang lebih lebar.

Jika diperhatikan, Curug Cikaso termasuk tipe air terjun yang cukup lebar yang terdiri dari tiga bagian air terjun. Tingginya sendiri sekitar 30 meter. Menurut informasi dari pak Mumuh, yang tadi mengantarkan kami lewat kapal, Curug Cikaso sendiri baru mulai ramai dikunjungi pada sekitar tahun 2006. Dan baru-baru ini pemerintah daerah mulai mengembangkannya menjadi objek wisata dengan cara memperbaiki jalan dan mempermudah akses menuju Curug Cikaso.

Bahkan saat kami berada di lokasi curug tersebut, Pak Mumuh yang ternyata juga menjabat sebagai ketua paguyuban yang mengelola Curug Cikaso, sedang membangun semacam pos penjagaan di dekat area curug yang nantinya akan berfungsi sebagai pengawas keselamatan para wisatawan.



Sebelum kami pulang, kami sempat mampir ke kantor Paguyuban Pengelola Curug Cikaso. Mereka menjelaskan bahwa sebenarnya mereka memiliki sebuah paket perjalanan dengan perahu yang lebih jauh dan lebih mahal. Paket tersebut adalah mengunjungi Curug Cikaso, Gua Aul (gua yang katanya masih belum banyak dikunjungi dan cukup bagus), Hulu sungai Cikaso, dan Muara Cikaso. Dengan kuota maksimal 12 orang, per perahu dipatok seharga IDR 600.000. Ada yang berminat?

Jumat, 19 Februari 2010

Prolog: Road to Ujung Genteng

Saya tadinya tidak merencanakan liburan apa-apa. Tidak dengan kakak saya, tidak dengan CLR, atau dengan teman-teman lain. Sudah terbayangkan saya akan bersantai di rumah sambil makan masakan mama. Namun entah mengapa, setelah melihat hasil tabungan yang dirasa ‘cukup’, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan. Lagi-lagi tanpa alasan yang pasti, saya ingin ke Ujung Genteng, Jawa Barat. Mungkin karena beberapa bulan sebelumnya saya melihat album kakak kelas saya via facebook yang mendokumentasikan liburannya di Ujung Genteng.


Selanjutnya proses perjalanan pun diwarnai dengan sejumlah kebetulan. Kakak saya akan melakukan perjalanan ke Jawa Barat bersama temannya, Nuran. Sehingga kakak saya pun mendukung rencana saya mengunjungi Jawa Barat dengan harapat nantinya akan menghasilkan sebuah e-book bersama.


Saat ingin ke Bandung, kebetulan teman SMA saya yang berkuliah di seni rupa ITB sedang menggelar karyanya di sebuah pameran di Jogjakarta, sehingga kami bisa ke Bandung bersama dengan kereta api ekonomi Pasundan.


Sedangkan kebetulan yang terakhir, awalnya saya ingin sekedar menanyakan informasi tentang Ujung Genteng kepada teman saya, Agra. Namun ternyata dia malah ingin ikut dan menawarkan saya untuk naik sepeda motor berdua dengannya. Tentu saja bagi saya ini sebuah kebetulan yang sangat manis.

***

Perjalanan Bandung-Ujung Genteng menggunakan sepeda motor bukanlah perjalanan yang singkat. Dengan menggunakan sepeda motor perjalan tersebut menghabiskan waktu hingga 9 jam! Kami berangkat dari Bandung begitu selesai sholat subuh, dan baru mencapai desa Surade pukul 2 siang.


Untungnya sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang menarik di sekitar Padalarang. Perbukitan kapur yang pada pagi hari masih terdapat sedikit kabut mengingatkan saya pada lukisan-lukisan Cina. Pada daerah ini banyak terdapat penjual oleh-oleh khas bandung. Saya sempat penasaran dengan Ubi Cilembu yang katanya rasanya manis. Tapi sayang saya tak sempat mampir.


Di pinggiran Cianjur kami menyempatkan diri mampir ke sebuah warung kaki lima yang menjual bubur. Dan saat selesai menyantap bubur ayam tersebut, saya dan Agra sepakat bahwa bubur tersebut kami beri nilai lima jempol! Kami sendiri juga tak tahu kenapa. Yang pasti berbeda dengan bubur ayam Jakarta atau bubur ayam Jawa. Mungkin karena kuahnya gurih seperti kuah soto. Setelah memasuki kota Cianjur, kami menemukan banyak penjaja bubur Cianjur. Mungkin bubur yang kami makan tadi bubur Cianjur.


Bubur Ayam Cianjur

Sementara perjalanan dari Sukabumi menuju Ujung Genteng kami menghadapi perbukitan dengan jalanan berkelok dan pemandangan yang sangat hijau. Area ini tiba-tiba mengingatkan saya pada jalan antara kota Malang dengan Pulau Sempu. Miriplah! Hanya saja menurut saya lebih menarik jalan Sukabumi-Ujung Genteng. Karena pemandangan terus berganti. Terkadang hutan pinus, perbukitan biasa, atau perkebunan teh.


Setelah menjalani 9 Jam yang melelahkan, kami pun akhirnya tiba di Desa Surade pada pukul 2 siang. Akhirnya...!

___________________________________________________________________________

Sumber foto: google.com


Senin, 07 September 2009

Sumba in Lost

Pulau Sumba versi "Lost"

Saat ini saya sedang tergila-gila dengan serial tv Lost. Dan akhirnya saya kemarin telah sampai di episode akhir season 4. Dan ternyata di situ nama Indonesia disebut-sebut.


Jadi ceritanya, setelah berjuang selama 100 hari di sabuah pulau terpencil di samudra pasifik, enam orang survivors dari Ocean Flight 815 akhirnya berhasil mendapat pertolongan. Tapi karena satu dan lain hal yang cukup complicated, mereka sepakat membuat suatu kebohongan. Mereka pun memanipulasi seolah-olah selama ini mereka terdampar di pulau Membata yang tak berpenghuni dan berhasil menuju ke pulau Sumba, Indonesia. Tepatnya di desa Manukangga.

Peta saat konferensi pers

Sementara detik-detik saat mereka tiba di desa Manukangga, Sumba, dapat dilihat dari potongan-potongan film berikut:


Anak Sumba versi "Lost"

Nelayan Sumba versi "Lost"

Suasana desa Manukangga versi "Lost"

Penduduk berlarian

Menyelamatkan The Survivors

Oceanic Six Survivors (dari kiri): Jack Shepard, Hurley 'Hugo' Reyes, Kate Austen (+Aaron), Sun Kwon, dan Sayyid Jarrah.

Saya sendiri cukup ragu apakah pengambilan gambar dilakukan di desa Manukangga di Pulau Sumba atau hanya settingan saja. Penduduknya pun terlihat kurang “Indonesia”. Tapi sesaat terdengar beberapa kata yang tidak asing di telinga saya, seperti “Cepat Kemari” dengan logat huruf ‘e’ pada ‘enak’. Sisanya hanya kata-kata yang tidak begitu jelas.

Saya sendiri belum pernah ke Sumba. Apakah mungkin orang-orangnya seperti yang saya lihat dan berlogat sama di Serial Lost. Sementara itu Pulau Membata sendiri katanya hanya pulau fiktif dalam serial Lost. Tidak benar-benar ada di Indonesia.

Terlepas dari itu, asyik juga mendengar Indonesia diseret-seret di serial favorit saya. Saya jadi punya impian baru. Saya ingin sekali pergi ke desa Manukangga di pulau Sumba. Bukan karena keindahan alamnya, bukan juga karena ketertarikan budaya. Tetepi alasan utama adalah karena daerah ini pernah-diseret-seret dalam serial tv Lost. Itu saja! Hehehe...
___________________________________________________________________

Sekedar informasi, katanya film Eat, Pray, and Love (yang diangkat dari buku berjudul sama) akan melakukan proses syuting di Bali dan akan tayang pada 2010 nanti. Pemerannya antara lain Julia Roberts dan Brad Pitt.

Gambar-gambar dari postingan ini hak cipta ABC.

Senin, 24 Agustus 2009

Love in Laweyan


Kemarin saya diundang mbak Dini untuk mengikuti lomba Rally Foto di Laweyan. Saya ke sana bersama beberapa teman saya, seperti Mas Saiqa, Kinkin, Dzulfan, Mega, Mbak Indah, plus Pras dan Mbak Sani.

Tapi saat mengikuti lomba nyali saya langsung ciut. Saya bertemu dengan banyak orang dengan kamera-kamera pro-nya. Malahan salah satu di antara mereka ada yang membawa kamera engkol. Setelah dibagi menjadi beberapa kelompok, saya dan Mas Saiqa bergabung bersama tiga teman baru yang ketiganya anak-anak unit fotografi UGM (UFO).

Kami diberi sebuah peta kampung Laweyan, dan harus mencari tiga titik foto yang telah ditentukan melalui kata sandi. Akhirnya kami menemukan tiga titik foto, yaitu bapak yang sedang membatik di salah satu lorong Laweyan, Langgar Merdeka, dan Tugu Laweyan.

Karena merasa tidak percaya diri untuk mengumpulkan foto, saya dan Mas Saiqa sepakat untuk tidak mengumpulkan foto. Kinkin juga tidak mengumpulkan foto dengan alasan yang lebih aneh lagi, dia tidak memotret karena pada setiap titik foto yang dia kunjungi tidak menarik untuk difoto, fuh...

Ya sudah, ini akhirnya saya pajang di sini saja foto yang saya ambil. Dengan catatan foto sebelunya lebih buruk lagi karena saat dipajang di blog ini foto-foto ini sudah mengalami proses cropping:




***

Sisa waktu setelah Rally Foto saya habiskan bersama Mas Saiqa, Kinkin, Dzulfan, dan Mega untuk menjelajahi lorong-lorong Laweyan. Bolehlah galeri ini saya beri nama Love in Laweyan!





Dua cewe tiga cowo,
Dengan dua pasangan membojo,
Dan satu orang menjomblo,
Terpaksa dia yang memfoto...
Oh, no!
Si Jomblo tiba-tiba ingin membojo...

***


Semua pengambilan gambar Love in Laweyan diambil saat bulan Ramadhan, jadi jangan ditiru, ya! Hehehe...

Sorenya kami berbuka puasa dengan melakukan petualangan kuliner. Jus buah di daerah laweyan, susu segar ShiJack, dan bestik Lidah dekat Matahari Singosaren membuat perut kami serasa mau meletus. Laporannya bisa dilihat di blognya Saiqa.

Maaf kalau postingan ini tulisannya kurang menggigit! hehehe...

Senin, 03 Agustus 2009

Lost: Sempu Experience

Photo: Jo & Navan

Text & Editing: Navan

___________________________________________________________________________

LOST itu sebenarnya merupakan serial TV yang sudah tayang sejak 2004. Tapi baru sekarang saya menyaksikan season 1-nya. Dan saya langsung dibuat tergila-gila sama serial TV yang satu ini.

LOST menceritakan tentang jatuhnya sebuah pesawat di sebuah pulau di lautan pasifik, dan sejumlah orang yang selamat dari kecelakaan tersebut mau tidak mau harus berusaha bertahan hidup di pulau tersebut. Mereka yang selamat, yang memiliki latar belakang dan masa lalu yang berbeda, perlahan saling mengenal satu sama lain. Mereka harus survive secara bersama-sama untuk menghadapi pulau yang penuh misteri. Dan saat satu per satu misteri mulai terkuak, mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka saling terkait, dan terdamparnya mereka di pulau ini bukanlah suatu kebetulan!

Melihat serial ini jadi mengingatkan saya dua minggu lalu. Saat saya dan beberapa teman saya melakukan perjalanan ke pulau Sempu. Dan entah mengapa saya jadi terinspirasi untuk menulis postingan ini seolah-olah semacam spin-off nggak penting dari serial LOST, hehehe...

***

The Casts of Lost: Sempu Experience. Gina, Zulfan, Pras, D.A, Jo, Navan

The Characters:

Pras – The Keeper: Berbekal sejumlah pengalaman seperti mendaki Gunung Lawu, serta menjadi salah satu yang dituakan dalam kelompok ini, menjadikan Pras merasa paling bertanggung jawab dalam ekspedisi ini. Sesekali ia berada di depan untuk membuka jalan, atau berada di belakang untuk menjaga anggota lainnya.

Jo – The Photographer: Menemani Pras sebagai salah satu yang dituakan dalam rombongan ini. Pernah menjabat sebagai Pimpinan Produksi dalam BPPM Equilibrium. Ditemani dengan kamera pro miliknya, maka dia pun menjadi fotografer dalam kelompok ini. Suka memotret model, sehingga dalam ekspedisi ini pun ia melakukannya dengan Zulfan dan Gina sebagai modelnya.

Zulfan – The Clown: Melakukan perjalanan ke sempu telah menjadi obsesinya dalam beberapa minggu sebelumnya. Maka di sempu ini ia berusaha menikmatinya senyaman mungkin. Tingkah lakunya yang menyenangkan menjadi hiburan di tengah kebosanan. Mulai menjadi model fotografinya Jo, hingga mengajak tidur bersama di Pantai Sepanjang.

D.A – The Chef: Selama di Jogja ia menginap di rumah tantenya dan sering membantu memasak. Saat student exchange di Singapura pun ia terkadang memasak sendiri. Sehingga di kelompok ini ia mampu melaksanakan amanah sembagai kepala juru masak. Padahal masakannya cuma mie-nasi-sarden.

Gina – The Assistant: Sepupu Jo. Sekalipun menjadi anggota yang paling baru dikenal, namun ia dapat melakukan berbagai hal. Membantu D.A dalam urusan masak memasak, cukup kuat membawa carrier saat melakukan perjalanan, hingga menjadi model fotografinya Jo!

Navan – The Writer: Barang bawaan paling sedikit, tidak membawa barang-barang kelompok, cepat lelah saat melakukan trekking, dan tidak bisa memasak. Entahlah, yang bisa dia lakukan cuma menulis catatan perjalanan ini, hehehe...

***

Perjalanan menuju ke Malang tidak semulus yang dibayangkan. Kereta Gaya Baru dari Jogja ke Surabaya sempat mengalami mogok. Melakukan tawar menawar untuk menyewa mobil pun cukup alot. Hingga akhirnya kami baru tiba di Pantai SendangBiru pada saat senja. Kabar baiknya, kami tidak usah membayar tiket masuk Pantai SendangBiru. Sedangkan kabar buruknya lebih banyak lagi...

Kami menyewa kapal dari dari seorang nelayan bernama Bu Mamik. Tapi sebelumnya kami harus izin ke pihak pengelola kawasan cagar alam pulau Sempu. Setelahnya kami pun bisa melakukan penyeberangan ke Pulau Sempu.

Rintangan bahkan mulai muncul sejak kami baru memulai perjalanan. Saat mau menaiki perahu, kami harus berhati-hati terhadap ubur-ubur yang sengatnya bisa membuat lumpuh. Perjalanan dalam perahu menjadi sedikit menegangkan. Selain kami berlima ada sepasang suami isteri muda. Begitu tiba di Teluk Semut pun matahari telah terbenam. Suami isteri muda yang bersama kami segera memasuki hutan yang gelap. Sementara kami berlima membangun tenda. Bulan purnama sedikit membulat. Pulau Sempu saat malam hari memang mistis.

Belum selesai memasang tenda, sepasang suami isteri tadi kembali muncul dari hutan. Mereka bilang kalau memasang tenda di Teluk Semut, air laut bakal pasang dan kami bakal tenggelam. Waks! Segera saja kami membereskan tenda dan segera ikut masuk ke dalam hutan.

Tujuan kami adalah mencapai Segara Anakan. Dan melakukan trekking malam hari adalah hal yang membuat kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kami harus menyalakan senter agar tidak tersesat. Kalau tersesat bisa sangat bermasalah. Akar-akar pepohonan membuat kami berkali-kali tersandung. Untung sang suami sebelumnya pernah ke Pulau ini, sehingga ia bisa memandu kami.

Setelah tersandung-sandung selama tiga jam, akhirnya kami tiba di Segara Anakan. Di sini kami pun segera memasang tenda dan segera melepas lelah di bawah terangnya bulan purnama. Malam pembuka yang sangat berkesan...

***

Matahari terbit dengan terhalang bebatuan karang yang mengelilingi Segara Anakan. Dan semakin tinggi matahari, semakin jelas keindahan Segara Anakan. Airnya sedikit berwarna hijau dari kejauhan, namun sangat bening jika dilihat dari dekat. Karena segara anakan merupakan danau dengan bocoran air laut, maka air di Segara Anakan sangat tenang, namun asin seperti air laut. Terlihat pula lubang masuk air laut dengan sesekali semburan ombak masuk di dalamnya.
Pagi itu hampir kami habiskan untuk bersenang-senang. Berenang, mengambil gambar, atau naik ke atas karang untuk melihat laut lepas. Katanya kalau sore hari air di Segara Anakan akan menyusut dan kita bisa mendekat ke arah goa.





Siangnya kami mencoba mencari jalan untuk menuju ke pantai kembar. Saat itu kami mencoba untuk mendaki bukit yang membatasi Segara Anakan dan Pantai Kembar. Dengan kemiringan yang cukup curam, mau tidak mau sesekali kami hharus berpegangan pada tumbuhan dan menahan diri untuk tidak jatuh.

Setelah bersusah payah mencapai Pantai Kembar, kami baru menyadari bahwa ternyata ada sebuah ruas jalan setapak yang menghubungkan Segara Anakan, Pantai Kembar, dan Pantai Sepanjang. Hargh, kami gondok.

Pantai sepanjang menjadi pantai terbaik yang kami kunjungi di Pulau Sempu. Selain areanya yang cukup panjang, kita dapat melihat berbagai batu karang yang sangat memanjakan mata. Saat sampai di Pantai Sepanjang pada pukul satu siang, Zulfan mengajak kami untuk tidur bersama di bawah pohon.





Begitu kami kembali ke Segara Anakan saat senja, daerah tersebut jauh lebih ramai dari kemarin malam. Maklum saja malam itu malam minggu. Dan kami pun sangat menikmati malam minggu di bawah bulan purnama sambil mengobrol satu sama lain hingga bermain tebak-tebakan.

***

Kesokan harinya kami pun bersiap pulang. Dan dalam perjalanan kami baru menyadari bahwa jalan yang kami tempuh selama tiga jam dan tersandung-sandung pada saat trekking malam ternyata jalan yang cukup lebar dan jelas. Dan dari Segara Anakan ke Teluk Semut ternyata hanya cukup menghabiskan satu jam saja!

Pulangnya, kami menuju Terminal Arjosari bersama mobil sewaan saat berangkat. Nama sopirnya adalah Pak Kholik. Beliau sangat baik, bahkan kami sempat diajak ke rumahnya dan menyantap masakan isterinya. Saat mencari oleh-oleh pun kami diajak menuju sentra oleh-oleh keripik buah di daerah Sanan, Malang.

Satu hal yang cukup berkesan di Sempu adalah, saya sempat berbicara dengan suami dan istri yang telah baik hati memandu kami pada saat trekking malam. Mereka berdua bernama Kak Ijul dan Kak Eka. Saya sempat mengobrol dengan kak Eka. Saat kuliah dia mengaku suka menjadi penikmat alam. Saat kami mengobrol soal tempat-tempat menarik dan saya memberitahu kalau saya dari Jember, dia malah berkata kalau di jember banyak tempat yang jauh lebih menarik, seperti Pulau Nusa Barong dan Taman Nasional Meru Betiri.

Saat saya mengobrol dengan salah seorang pengunjung Sempu bernama Mas Zaki, dia juga mengatakan hal yang sama seperti mbak Eka. Bahkan dia pernah melakukan trekking di Pulau Nusa barong yang menghabiskan waktu satu minggu.

What!? Jauh-jauh saya pergi ke Sempu, dan di sini saya malah bertemu dua orang yang mengatakan kalau Jember punya sejumlah tempat yang lebih menarik? Sebagai orang Jember yang tidak terlalu tahu Jember, saya jadi sangat malu...

***

Kembali ke LOST, ternyata cerita Sempu ini jadi nggak bisa disambungin banget sama LOST! Hehehe... yasuda, lah! Saya mau nonton lagi yang season 2, sambil menunggu dua tokoh LOST favorit saya bernama Hugo dan Sun...


Rabu, 29 Juli 2009

Bali Travel Report 2009


Kalau dipikir, saya kemarin sungguh beruntung. Saya mendapat kesempatan mengunjungi Pulau Bali selama 6 hari. Ini semua berawal dari kakak saya, Mas Ayos, yang melakukan kerja praktek di daerah Sayan, Ubud. Keberuntungan saya semakin bertambah ketika ia mendapatkan kos di dekat tempat kerjanya, sehingga saya bisa menggunakan sepeda motor yang mempermudah saya mengeksplor Bali.

Dari enam hari tersebut, saya berusaha menjangkau sejumlah tempat yang mungkin dan ingin saya jangkau. Syukurlah, sejumlah tempat berhasil saya datangi. Dari sana saya mendapatkan berbagai cerita yang telah saya share melalui kotakcoklat89 ini.

Pengalaman saya secara runtut saya tulis dalam paket Bali Travel Report 2009 ini. Adapaun isinya adalah sebagai berikut:

• Hari 1: Kembali ke Bali
• Hari 2: Sudut Sudut Ubud
• Hari 3: Batur Bertutur
• Hari 3: Anti Boring di Tampaksiring
• Hari 4: Satu Waktu di Uluwatu
• Hari 5: Gajah Punya Goa, Monyet Punya Hutan
• Hari 5: Berburu Senja Di Tanah Lot
• Hari 6: The Last Day in A Wrong Way

Saya berharap semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman. Jika dalam tulisan saya terdapat kesalahan, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Sangat terbuka terhadap saran dan kritik teman-teman.

Terima kasih,
Kotakcoklat89.blogspot.com

Senin, 27 Juli 2009

The Last Day in A Wrong Way

Text and Photo: Navan Satriaji
____________________________________________________________________

Saya marah sama kakak saya. Dia telah membuat postingan baru di blognya. Dengan tampilan foto yang lebih ciamik, pula. Saya malas kalau nantinya ada double posting, jadinya postingan kali ini saya buat sederhana saja, yang nantinya akan saya tambahi link yang terkait dengan blog kakak saya, okeh? (sebenarnya ini hanya alasan saya yang sedang jenuh membuat postingan tentang Bali. Oportunis sekali! Hehehe...)

Ini hari keenam di Bali dan ini menjadi hari terakhir saya sebagai kesempatan menjelajahi Bali. Ada satu tempat yang masih membuat saya penasaran untuk mengunjunginya. Tempat itu tak lain dan tak bukan adalah Bedugul. Ah, saya begitu ngidam lihat pura yang ada di tengah danau yang biasa ada di majalah atau internet. Dan saya seharusnya bisa melihatnya di Bedugul.
Ok, saya dan kakak saya telah sepakat, tujuan kami kali ini adalah Bedugul. Dengan keyakinan bahwa Bedugul berada di sebelah utara Ubud dan belok ke Barat sedikit, kami pun segera berangkat. Dan tidak membawa peta adalah kesalahan fatal yang nantinya akan mempengaruhi perjalanan kami...

***

Sepanjang perjalanan ke arah utara saya berharap melihat papan jalan yang menunjuk ke arah barat dan bertuliskan Bedugul. Tapi ternyata tanda tersebut tak kunjung muncul dan kami tahu-tahu telah sampai di Kintamani. Waks! Itu berarti beberapa puluh kilometer di timur Bedugul.

Nyasar? Ya! Nyesel? Nggak. Kakak saya langsung mengusulkan untuk menikmati kopi sejenak di Kintamani. Asal tahu saja, kami mengincar kopi Kintamani yang katanya rasanya cukup khas itu. Saya baru sadar, warung kopi adalah singgahan wajib kalau kita berjalan-jalan. Selain menikmati kopi Kintamani, dari warung kopi tersebut kami sempat mengobrol dengan penduduk setempat, dan kami banyak mendapatkan informasi yang tidak penting tapi mengasyikkan. Mulai dari asal usul kota kintamani yang berasal dari “cinta money” (wakakak!), informasi pemukiman jawa-madura, hingga anjing Kintamani yang ekornya sangat khas.


Kopi Kintamani seribu rupiah.

Anjing Kintamani

Di Kintamani kami sempat berhenti di salah satu masjid. Namanya masjid Al Muhajirin. Masjid tersebut memiliki keunikan tersendiri, karena diapit oleh perkampungan jawa dan madura. Saat tiba di sana, kakak saya ingin buang air kecil. Tapi apa daya pintu masjidnya terkunci. Akhirnya setelah berkenalan dengan salah seorang penduduk, kakak saya turun menuju perkampungan Madura untuk buang air sekaligus mengorek informasi soal perkampungan tersebut.

Bagaimana dengan saya? Sambil menunggu kakak saya, saya diizinkan untuk masuk masjid Al Muhajirin yang terkunci dengan cara melompati pagar. Saat masuk ke dalamnya, wow, nampak sederhana, tapi ruang di belakang yang menghadap timur terpasang jendela lebar yang bisa melihat pemandangan danau dan gunung Batur. Masjid yang sederhana namun sangat asyik. Kalau masjidnya seperti ini, saya pasti langsung jadi lebih rajin beribadah, hehehe...


Masjid Al Muhajirin, Kintamani

Gunung Batur yang dilihat dari dalam masjid

Reportase kakak saya mengenai Kintamani dapat dilihat di sini


***

Menurut informasi, jika ingin ke Bedugul kita bisa ke arah selatan melewati jembatan Tukad Bangkung. Tapi lagi-lagi kami menemukan sejumlah hambatan, tetapi hambatan yang mengasyikkan.

Kami sempat tertarik terhadap sebuah pura yang tak terawat. Adapun fakta dari pura yang nampak tak terawat itu cukup unik. Jika ada penduduk sekitar ada yang meninggal, maka sebuah pantangan bagi penduduk untuk mengunjungi pura tersebut selama sekitar satu bulan. Anehnya, penduduk meninggal secara beruntun dan bergantian, mungkin karena banyak penduduk usia tua. Sehingga pantangan untuk mengunjungi pura pun semakin lama, dan jadilah puranya tak terawat.

Mampir ke pura yang tak terawat

Hambatan lainnya, dalam perjalanan kami melihat sebuah sasana tinju bernama Cakti Bali. Dan ternyata kami menemui seorang petinju. Kakak saya yang pernah melihat sebuah pertandingan tinju segera mengenalinya. Namanya Jack Timor. Sementara saya yang tidak suka tinju tidak tahu apa-apa. Di sasana tersebut kakak saya mewawancarai habis-habisan Jack Timor. Sementara bang Jack sendiri tidak keberatan. Dengan lancar ia menceritakan kisah hidupnya yang memberikan sejumlah inspirasi bagi saya. Ia baru 19 tahun, tapi telah menempuh sejumlah perjuangan. Bagaimana dengan saya, yang juga berumur sama? Tidur, yuuukkk... hehehe...

Mas Ayos vs. Jack Timor

Menurut informasi dari Jack, Jembatan Tukad Bangkung yang kami cari tak jauh lagi. Bahkan dari sasana Cakti Bali pun sudah terlihat jembatan tersebut. Langsung saja saya dan kakak melaju ke Jembatan Tukad Bangkung. Jembatan Tukad Bangkung ini memiliki tinggi 71 meter dengan 41 meter pondasi dalam tanahnya. Konon jembatan ini merupakan jembatan tertinggi di Asia Tenggara.

Surabaya punya Suramadu. Bali punya Tukad Bangkung. Konon tertinggi di Asia Tenggara.

Sementara reportase mengenai Jack Timor hingga Jembatan Tukad Bangkung dapat dilihat dalam blog kakak saya.

***


Lagi-lagi dalam perjalanan kami mendapat informasi mengenai sebuah air terjun bernama air terjun Nungnung. Menurut informasi yang kami peroleh, air terjun ini masih berada dalam lingkungan yang cukup asri, dan belum terlalu banyak dipadati oleh pengunjung.

Tak butuh waktu lama untuk menemukan air terjun Nungnung dari Jembatan Tukad Bangkung. Kalau di blog kakak saya dibilang free entrance, maka salah besar. Karena sesungguhnya untuk masuk ke air terjun ini ada tiket masuknya, hanya saja kakak saya tanpa sadarnya nyelonong masuk. Hehehe...

Pertama kali dari pintu masuk kita langsung dihadapkan pada tangga turunan sepanjang kira-kira 500 anak tangga, lah! Tentu saja begitu sampai di bawah kaki saya langsung gemetaran cukup lama. Tapi tenang saja, usaha menuruni anak tangga tidak terbuang percuma, karena kita dihadapkan pada pemandangan yang sangat mengagumkan. Kakak saya malah dalam blognya menyebut Nungnung sebagai downstairs paradise. Cahaya yang menembus dari balik dedaunan. Air terjun yang cukup deras. Hawa yang sejuk. Suasana yang terbilang sepi. Perfect! Kecuali anak tangga yang bikin jantungan saat pulang. Huh!

Lelah mendaki

Air Terjun Nungnung

Air terjun Nungnung dalam blog kakak.

***

Jam menunjukkan pukul 3 sore. Saya harus segera ke terminal Ubung Denpasar, selain itu kakak saya ada tugas membuat proposal. Lantas bagaimana dengan Bedugul? Dengan berat hati saya mengatakan bahwa kami batal menuju ke sana karena keterbatasan waktu. Waks.

Saya pun telah mendapatkan bis menuju Jember. Dengan berat hati saya mengakhiri perjalanan saya di Bali. Entah kapan lagi saya bisa ke pulau ini. Goodbye, Bali...