Selasa, 21 Juli 2009

Gajah Punya Goa, Monyet Punya Hutan

Text & Photo: Navan Satriaji

____________________________________________________________________

Jika pada hari ke lima di Bali ini saya pergi ke Bird Park, seharusnya judulnya bisa seperti ini: Burung, Gajah, dan Monyet. Tapi sayang, judul tersebut tidak akan pernah dipakai, karena saat saya ke Bird Park pukul 9 pagi, saya harus merogoh kocek sebesar 75 ribu rupiah untuk masuk. Selain saat itu saya tidak membawa uang cukup, bagi orang seperti saya pasti uang sebesar itu akan saya belikan buat jajan hahaha...

Baiklah, burung telah dicoret. Maka siang ini saya hanya pergi ke Goa Gajah dan Monkey Forest. Keduanya masih di daerah Ubud. Tapi sayang, perjalanan kali ini dinodai dengan kesalahan setting kamera yang saya tidak terlalu tahu cara memperbaikinya. Jadilah sejumlah foto terlihat kurang apik. Tak apa, ya...

***

Seperti biasa, Pura Goa Gajah termasuk tempat suci, sehingga saya yang sedang memakai celana pendek harus memasang sarong dan selendang. Harga tiket tidak jauh berbeda dengan tempat lain, yaitu 6 ribu rupiah. Begitu menuruni tangga masuk, kita langsung dihadapkan pada pemandangan kompleks Goa Gajah.

Kompleks Goa Gajah

Di dalam kompleks ini terdapat kolam dan pancuran air suci seperti yang saya temui di Pura Tirta Empul. Selain itu, dapat ditemui goa kecil tempat bersemedi. Dari pintu masuk ruangan goa tersebut akan membentuk huruf T. Cukup gelap, namun dibantu dengan sejumlah lampu yang tidak terlalu terang.

Lebih jauh lagi, di sisi belakang kompleks Pura Goa Gajah terdapat sungai kecil dengan suasana yang sejuk dan rindang. Ada reruntuhan candi yang sudah tidak berbentuk lagi. Sisanya sebuah pura kecil di belakang, ada juga kolam teratai.

Air Mancur Suci

Tempat Semedi

***

Setelah berkeliling di Goa Gajah, saya masih punya waktu sekitar 2 jam sebelum harus kembali ke Ubud pukul satu siang. Maka pilihan saya menghabiskan waktu tersebut adalah ke Ubud Monkey Forest. Yang letaknya tak jauh dari pusat kecamatan Ubud.

7 tahun yang lalu saya pernah ke monkey forest, tapi di daerah Sangeh. Katanya di Bali bisa banyak ditemui monkey forest, tidak hanya di Sangeh dan Ubud. Dengan sedikit ingatan, saya akan mencoba membandingkan Sangeh dengan Ubud Monkey Forest.

Setelah membayar tiket masuk seharga 15 ribu rupiah, saya langsung dihadapkan ke sebuah hutan yang sangat lebat. Monyet-monyet berkeliaran di sana-sini. Nampak sejumlah pedagang pisang menjajakan pisang untuk makanan monyet. Saya sempat menguping seorang bule yang sedang membeli pisang. Ternyata harga satu sisir (sekitar 8 buah ukuran kecil) seharga 20 ribu rupiah. Waks!


Minum dulu...

Pura kecil untuk monyet yang meninggal

Minum susu mama...

Selain hutan yang luas, serta monyet-monyet liar yang berkeliaran. Di sini dapat ditemui sebuah kolam kecil tempat minum monyet. Pura kecil dan kuburan untuk monyet yang meninggal. Di dalam kompleks Ubud Monkey Forest ini juga terdapat Pura Dalem Agung, Pura Pemandian Suci, kolam kecil, dan sungai kecil tempat air suci.

Mencuri sesajen

Pura Dalem Agung

Kolam suci

Tidur massal

Entah mengapa, yang paling mengasyikkan adalah ketika memotret berbagai ekspresi para monyet. Kalau saya sedikit mengingat Sangeh Monkey Forest dan membandingkannya, maka menurut saya lebih seru di Ubud Monkey Forest.

***

Nenek-nenek dari Amerika. Lonely Traveler. Sayangnya tidak sempat menanyakan nama...

Ah, iya. Ketika saya meninggalkan Ubud Monkey Forest pada pukul 12.30, saya sempat mengingat pertemuan saya dengan salah satu turis di Ubud Monkey Forest. Dia seorang nenek. Dan entah kenapa dia lagi iseng mengambil satu bunga dari sebuah sesajen. Saat dia sadar, dia langsung tersenyum ke saya. Saya membalas dengan tersenyum dan segera sok akrab dengan bahasa inggris yang kacau.

Dari percakapan singkat itu saya baru tahu kalau si nenek berasal dari USA, dan dia ke Bali sendirian! (lonely traveler, dong!). Dan saat saya bertemu dengannya, dia tidak sedang bersama guide. Wah, boleh juga, tuh! Nenek-nenek yang sedang menghabiskan masa tuanya sendirian di Bali. Tapi sayangnya, saya belum sempat berkenalan dengannya. Saya tak tahu nama si nenek itu...

Satu hal yang paling saya ingat, ketika saya memberitahukan kalau saya orang Indonesia, si nenek berkata:

Oh, Your country is beautiful!

Waa... semangat nasionalisme saya langsung muncul. Saya tak menyangka di tengah kerumunan monyet-monyet saya bisa menumbuhkan rasa nasionalisme saya lewat seorang nenek, hahaha... saya pun melanjutkan pulang sambil menunggu rencana selanjutnya ke Tanah Lot bareng kakak.

4 komentar:

saiqa ilham mengatakan...

coba kamu tanya kin2,,pasti dia juga bakal jawab indonesia is beautiful country.palagi kalo dibandingin thailand,hahaha

Dzulfan mengatakan...

Hoaaa... puas kaw di bali T_T iri mode on

Navan mengatakan...

@ mas saiqa

tapi tetap saja saya pengen ke thai T_T

Sasmita Dini mengatakan...

saya takut monyet, wewww
T_T
maaf saya skip bacanya...