Rabu, 08 Juli 2009

Sudut Sudut Ubud


Text and Photo by: Nafan Satriaji

__________________________________________________________________________

Di hari kedua kakak akan memulai pengalaman kerja pertamanya, di kos tidak ada fasilitas hiburan, jadilah saya harus mencari hiburan di luar. Beruntung kakak saya tidak menggunakan motornya, jadilah saya bisa memanfaatkannya. Tetapi saya melakukan sebuah kesalahan besar, saya tidak membawa STNK. Otomatis saya agak ragu untuk menuju ke tempat yang jauh ataupun untuk memarkir motor di sejumlah tempat. Fuh...

Akhirnya saya hanya berjalan-jalan di seputar Ubud saja. Beruntung di pasar Ubud tidak memerlukan STNK untuk memarkir kendaraan. Jadilah saya memarkirkan motor saya di Pasar Ubud dan berjalan-jalan dari Pasar Ubud hingga Antonio Blanco Art Museum.

***

Kecamatan Ubud yang masih merupakan bagian dari kabupaten Gianyar sendiri bisa dikatakan sebagai sentra kesenian dan kerajinan dari Pulau Bali. Sangat mudah ditemui berbagai galeri lukisan, galeri keramik, serta sejumlah galeri lainnya. Turis asing pun sangat mudah ditemui di daerah ini, sehingga sejumlah brand internasional tak ragu membuat cabang tokonya di daeran ini. Sejumlah penginapan, mulai dari homestay hingga resort internasional berbaur di daerah ini.


Dengan banyaknya jumlah turis asing di Ubud, maka suasana Pasar Ubud yang saya kunjungi pun juga dipenuhi berbagai turis asing yang sedang mencari sejumlah tanda mata. Hampir sebagian besar barang yang diperdagangkan di sini adalah barang-barang seni seperti cinderamata hingga aksesoris pakaian.

Menyelami sudut-sudut Pasar Ubud memang mengasyikkan. Di dalamnya kita bisa melihat interaksi masyarakat lokal dengan sejumlah turis asing dalam sebuah transaksi jual beli. Sementara setiap pedagang berusaha menarik perhatian turis untuk mau membeli dagangan mereka, para turis sendiri lebih disibukkan dengan beragam pilihan barang cinderamata yang tersedia.





Tapi salah satu spot yang cukup menarik perhatian para turis adalah sebuah pura kecil yang didapati di depan pintu masuk Pasar Ubud. Pura tempat di mana sebagian masyarakat setempat tetap taat melaksanakan ibadah, tanpa merasa terganggu dengan perhatian sejumlah turis yang tertuju pada peribadatan mereka.



***

Setelah berkeliling pasar Ubud, saya segera berjalan kaki menuju Museum Antonio Blanco. Antonio Blanco sendiri merupakan salah seorang seniman Italia, yang katanya sangat mengagumi Bali. Saking cintanya, ia bahkan membuat museum di Bali untuk memajang sebagian karya-karyanya.

Kebetulan saya sama sekali tidak ada niatan untuk berkunjung ke Antonio Blanco. Saya hanya menjadikan museum itu sebagai titik ujung perjalanan saya melihat sudut-sudut Ubud. Sebab ternyata Ubud sendiri menyimpan sejumlah spot yang menarik perhatian saya. Sebut saja salah satunya sebuah jalan menurun yang teduh akibat rimbunan pohon di atasnya. Ruas jalan itu menjadi jalan favorit bagi saya dan kakak saya.


Sekitar dua ratus meter sebelum Museum Antonio Blanco, ada sebuah jembatan yang menopang jalan di Ubud. Nah di sampingnya, ada sebuah jembatan gantung yang sangat patut dicoba meski hanya sekedar menikmati sungai kecil di bawahnya serta sejumlah pepohonan rindang.

Keinginan saya untuk menyelami sisi lain Ubud semakin menjadi ketika saya dibuat penasaran oleh sebuah tangga kecil yang menuju ke bawah jembatan. Tanpa tanggung-tanggung saya langsung ke bawah dan menikmati suasana bawah jembatan yang sangat hijau. Ternyata hiruk-pikuk Ubud di atas sana tidak menjangkau sampai ke bawah. Jadilah ketenangan yang dirasakan.

Terbalik dari bawah jembatan, saat saya iseng ke jalan atas Ubud (atas jalan turunan yang saya ceritakan), ternyata saya masih bisa menemukan desa dengan persawahan, dengan rumah-rumahnya yang tertata. Saya sempat menemui seorang bapak yang mencari rumput untuk sapinya. Ternyata di tengah Ubud yang namanya sudah mendunia, masih dapat ditemui sisi kebaliannya...


***

Perjalanan hari kedua ini saya akui memang sangat singkat. Pukul setengah dua siang saya telah kembali ke kos. Tapi entah mengapa menyelami sudut Ubud menjadi sebuah alternatif yang mengasyikkan, apalagi ketika tidak membawa STNK. Hahaha...

8 komentar:

Sasmita Dini mengatakan...

wawawaaaa...
eh, itu cinderamatanya banyakk, oleh oleh in satuuuuu :P
*jangan beralasan km dah pulang*
:p

ubud itu kalo di peta bali, ada di bagian mana ya?wew

Navan mengatakan...

Ubud itu di tengah bali, sebelah utara Denpasar. Masuk Kabupaten Gianyar...

saiqa mengatakan...

wow wow wow,,semua pada berlibur,,habis ini kamu ke sempu kan?habis itu ke bromo ya,..aku jg mau ke bromo bareng wana

yosay mengatakan...

kmu jalan2 ke ubud..?? wow.. seruu.. sip2..boleh juga hasil photo-captured nya... oke,, keep blogging yow fan !!

NDoo mengatakan...

anak siapa tuuh?

Annisa Prasetio mengatakan...

navan tulisan dan foto2mu kok selalu bisa bikin sesuatu jadi terlihat jauh lebih bagus dan menarik ya? :)) pengen deh bisa nulis kayak kamu hehehe

Navan mengatakan...

@ sasa

hagh, malahan sasa kalo nulis terkadang jauh lebih dalem dari aku, loh!

aduh, gimana, ya... karena ini blog. maka kayanya penting, deh nulis apa adanya... jujur aja, apa yang pengen ditulis, ditulis! hehehe...

Annisa Prasetio mengatakan...

haah?? lebih dalem apaan? aku jadi bingung

lagian ini bukan soal konteks tulisan atau dalem ato ga dalem navan :)) ini masalah penyajian hehehee

aku dari lahir sampai sekarang ga bisa2 bikin tulisan yang genrenya macam tulisanmu ini :D ini bedanya anak EQ sama bukan anak EQ kali yeee hahahahahaaa