Senin, 27 Juli 2009

The Last Day in A Wrong Way

Text and Photo: Navan Satriaji
____________________________________________________________________

Saya marah sama kakak saya. Dia telah membuat postingan baru di blognya. Dengan tampilan foto yang lebih ciamik, pula. Saya malas kalau nantinya ada double posting, jadinya postingan kali ini saya buat sederhana saja, yang nantinya akan saya tambahi link yang terkait dengan blog kakak saya, okeh? (sebenarnya ini hanya alasan saya yang sedang jenuh membuat postingan tentang Bali. Oportunis sekali! Hehehe...)

Ini hari keenam di Bali dan ini menjadi hari terakhir saya sebagai kesempatan menjelajahi Bali. Ada satu tempat yang masih membuat saya penasaran untuk mengunjunginya. Tempat itu tak lain dan tak bukan adalah Bedugul. Ah, saya begitu ngidam lihat pura yang ada di tengah danau yang biasa ada di majalah atau internet. Dan saya seharusnya bisa melihatnya di Bedugul.
Ok, saya dan kakak saya telah sepakat, tujuan kami kali ini adalah Bedugul. Dengan keyakinan bahwa Bedugul berada di sebelah utara Ubud dan belok ke Barat sedikit, kami pun segera berangkat. Dan tidak membawa peta adalah kesalahan fatal yang nantinya akan mempengaruhi perjalanan kami...

***

Sepanjang perjalanan ke arah utara saya berharap melihat papan jalan yang menunjuk ke arah barat dan bertuliskan Bedugul. Tapi ternyata tanda tersebut tak kunjung muncul dan kami tahu-tahu telah sampai di Kintamani. Waks! Itu berarti beberapa puluh kilometer di timur Bedugul.

Nyasar? Ya! Nyesel? Nggak. Kakak saya langsung mengusulkan untuk menikmati kopi sejenak di Kintamani. Asal tahu saja, kami mengincar kopi Kintamani yang katanya rasanya cukup khas itu. Saya baru sadar, warung kopi adalah singgahan wajib kalau kita berjalan-jalan. Selain menikmati kopi Kintamani, dari warung kopi tersebut kami sempat mengobrol dengan penduduk setempat, dan kami banyak mendapatkan informasi yang tidak penting tapi mengasyikkan. Mulai dari asal usul kota kintamani yang berasal dari “cinta money” (wakakak!), informasi pemukiman jawa-madura, hingga anjing Kintamani yang ekornya sangat khas.


Kopi Kintamani seribu rupiah.

Anjing Kintamani

Di Kintamani kami sempat berhenti di salah satu masjid. Namanya masjid Al Muhajirin. Masjid tersebut memiliki keunikan tersendiri, karena diapit oleh perkampungan jawa dan madura. Saat tiba di sana, kakak saya ingin buang air kecil. Tapi apa daya pintu masjidnya terkunci. Akhirnya setelah berkenalan dengan salah seorang penduduk, kakak saya turun menuju perkampungan Madura untuk buang air sekaligus mengorek informasi soal perkampungan tersebut.

Bagaimana dengan saya? Sambil menunggu kakak saya, saya diizinkan untuk masuk masjid Al Muhajirin yang terkunci dengan cara melompati pagar. Saat masuk ke dalamnya, wow, nampak sederhana, tapi ruang di belakang yang menghadap timur terpasang jendela lebar yang bisa melihat pemandangan danau dan gunung Batur. Masjid yang sederhana namun sangat asyik. Kalau masjidnya seperti ini, saya pasti langsung jadi lebih rajin beribadah, hehehe...


Masjid Al Muhajirin, Kintamani

Gunung Batur yang dilihat dari dalam masjid

Reportase kakak saya mengenai Kintamani dapat dilihat di sini


***

Menurut informasi, jika ingin ke Bedugul kita bisa ke arah selatan melewati jembatan Tukad Bangkung. Tapi lagi-lagi kami menemukan sejumlah hambatan, tetapi hambatan yang mengasyikkan.

Kami sempat tertarik terhadap sebuah pura yang tak terawat. Adapun fakta dari pura yang nampak tak terawat itu cukup unik. Jika ada penduduk sekitar ada yang meninggal, maka sebuah pantangan bagi penduduk untuk mengunjungi pura tersebut selama sekitar satu bulan. Anehnya, penduduk meninggal secara beruntun dan bergantian, mungkin karena banyak penduduk usia tua. Sehingga pantangan untuk mengunjungi pura pun semakin lama, dan jadilah puranya tak terawat.

Mampir ke pura yang tak terawat

Hambatan lainnya, dalam perjalanan kami melihat sebuah sasana tinju bernama Cakti Bali. Dan ternyata kami menemui seorang petinju. Kakak saya yang pernah melihat sebuah pertandingan tinju segera mengenalinya. Namanya Jack Timor. Sementara saya yang tidak suka tinju tidak tahu apa-apa. Di sasana tersebut kakak saya mewawancarai habis-habisan Jack Timor. Sementara bang Jack sendiri tidak keberatan. Dengan lancar ia menceritakan kisah hidupnya yang memberikan sejumlah inspirasi bagi saya. Ia baru 19 tahun, tapi telah menempuh sejumlah perjuangan. Bagaimana dengan saya, yang juga berumur sama? Tidur, yuuukkk... hehehe...

Mas Ayos vs. Jack Timor

Menurut informasi dari Jack, Jembatan Tukad Bangkung yang kami cari tak jauh lagi. Bahkan dari sasana Cakti Bali pun sudah terlihat jembatan tersebut. Langsung saja saya dan kakak melaju ke Jembatan Tukad Bangkung. Jembatan Tukad Bangkung ini memiliki tinggi 71 meter dengan 41 meter pondasi dalam tanahnya. Konon jembatan ini merupakan jembatan tertinggi di Asia Tenggara.

Surabaya punya Suramadu. Bali punya Tukad Bangkung. Konon tertinggi di Asia Tenggara.

Sementara reportase mengenai Jack Timor hingga Jembatan Tukad Bangkung dapat dilihat dalam blog kakak saya.

***


Lagi-lagi dalam perjalanan kami mendapat informasi mengenai sebuah air terjun bernama air terjun Nungnung. Menurut informasi yang kami peroleh, air terjun ini masih berada dalam lingkungan yang cukup asri, dan belum terlalu banyak dipadati oleh pengunjung.

Tak butuh waktu lama untuk menemukan air terjun Nungnung dari Jembatan Tukad Bangkung. Kalau di blog kakak saya dibilang free entrance, maka salah besar. Karena sesungguhnya untuk masuk ke air terjun ini ada tiket masuknya, hanya saja kakak saya tanpa sadarnya nyelonong masuk. Hehehe...

Pertama kali dari pintu masuk kita langsung dihadapkan pada tangga turunan sepanjang kira-kira 500 anak tangga, lah! Tentu saja begitu sampai di bawah kaki saya langsung gemetaran cukup lama. Tapi tenang saja, usaha menuruni anak tangga tidak terbuang percuma, karena kita dihadapkan pada pemandangan yang sangat mengagumkan. Kakak saya malah dalam blognya menyebut Nungnung sebagai downstairs paradise. Cahaya yang menembus dari balik dedaunan. Air terjun yang cukup deras. Hawa yang sejuk. Suasana yang terbilang sepi. Perfect! Kecuali anak tangga yang bikin jantungan saat pulang. Huh!

Lelah mendaki

Air Terjun Nungnung

Air terjun Nungnung dalam blog kakak.

***

Jam menunjukkan pukul 3 sore. Saya harus segera ke terminal Ubung Denpasar, selain itu kakak saya ada tugas membuat proposal. Lantas bagaimana dengan Bedugul? Dengan berat hati saya mengatakan bahwa kami batal menuju ke sana karena keterbatasan waktu. Waks.

Saya pun telah mendapatkan bis menuju Jember. Dengan berat hati saya mengakhiri perjalanan saya di Bali. Entah kapan lagi saya bisa ke pulau ini. Goodbye, Bali...

3 komentar:

Sasmita Dini mengatakan...

aku udah baca semua di blog mas ayos, heheheheheee

Journal Kinchan mengatakan...

ajiiib! i love the last photograph. kamu dapet ROL di atas air terjun! coool!!! :D

Navan mengatakan...

@ KinKin

adu... ROL itu bahasa apa, lagi...?