Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Februari 2010

Saya Adalah Pejalan Gagal


Oke, awal liburan ini saya tidak memiliki rencana apa-apa, hingga akhirnya saya memutuskan untuk pergi sendirian ke Jawa Barat dan pergi ke Ujung Genteng. Pertama kali tahu Ujung Genteng dari album facebook salah seorang kakak kelas SMA. Setelah itu saya banyak mendapat informasi dari Kaskus. Dan Alhamdulillah, meski rencana saya cukup dadakan, tapi saya berhasil mencapai daerah tersebut bersama salah seorang teman SMA bernama Agra.


Tapi sayangnya, saya tidak akan menceritakan lebih jauh tentang Ujung Genteng, melainkan curcol mengenai hikmah dari perjalanan ini.


Kabar baiknya, untuk sementara saya merasa bangga bisa melakukan perjalanan dan perencanaan awal seorang diri (meski pada akhirnya saya banyak mendapat bantuan dari kawan-kawan). Dan saya bangga. Karena bagi orang yang tidak berprestasi seperti saya, pencapaian-pencapaian informal seperti ini seolah menjadi indikator peningkatan kualitas diri. Dan ketika saya berhasil mencapai Ujung Genteng, tanpa bantuan kakak dan teman-teman CLR yang selama ini banyak membantu saya, saya seolah merasa kemandirian saya naik satu level.



Tapi apakah itu benar?

Karena begitu saya pulang dari Ujung Genteng, saya langsung kembali ke realitas yang sesungguhnya. Saya kedodoran bayar SPP karena bersinggungan dengan perjalanan ini (saya malas cerita detailnya). Dan itu adalah sebuah bukti bahwa saya belum berhasil memilih prioritas dalam sejumlah pilihan.


Yang kedua, pulang dari Ujung Genteng saya sakit seminggu, perut kembung dan maag (sepertinya). Ini menjadi sebuah pertanyaan besar, bagaimana mungkin saya melakukan perjalanan kembali setelah dua kali mengalami sakit pascaperjalanan (sebelumnya saat pulang dari pulau sempu).


Bayar SPP sudah beres dan sakit sudah sembuh. Tapi saya kembali bertanya, apakah saya sesungguhnya telah siap fisik dan mental dalam melakukan setiap perjalanan? Apakah saya benar-benar naik satu level kemandirian dalam perjalanan ini?



Jawabannya: jika seandainya ini adalah sebuah mata kuliah 3 sks, maka saya mendapat nilai E dan saya harus mengulang suatu saat nanti. Perjalanan ini tak lebih dari sebuah perjalanan yang kekanak-kanakan. Perjalanan ini gagal membawa saya menuju pribadi yang lebih baik. Saya, untuk sementara ini, adalah pejalan gagal.


Pfffhhh.... lelah sekali. Tapi setidaknya untuk mata kuliah Dasar-Dasar Mengambil Hikmah saya dapat nilai A, hehehe...


Selasa, 03 November 2009

Equality In-Formality


Ah, yang namanya dalam suatu kepanitiaan formal, bahkan yang tingkat nasional sekalipun seperti EQUALITY 2009, pasti selalu ada berbagai aksi "informal" dari setiap pendukung acaranya... :)









Selasa, 20 Oktober 2009

Coba Katakan

...aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan,
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa,
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti,
lebih baik kita menangis dan terluka hari ini..

(Maliq d'Essentials - Coba Katakan)

Hahaha... jarang sekali saya menuliskan lirik lagu di dalam blog saya. Tetapi tak apalah, karena lirik lagu ini akan mengawali tulisan saya mengenai sejumlah lagu Maliq d'Essentials yang saya sukai.

***

Entah mengapa saat Maliq d'Essentials mendobrak panggung hiburan tanah air dengan peluncuran album pertamanya dengan hit single seperti Terdiam atau The One, saya merasa biasa saja. Nothing special for me. Mungkin yang cukup saya suka adalah Blow My Mind. karena di sini nuansa funk-nya cukup terasa.

Di Album kedua (Free Your Mind) saya cukup jatuh hati dengan Heaven. entah mungkin karena musiknya yang cukup soulful buat saya. Apalagi saat berada di bait:

Jika Memang Adanya
aku dan Kamu
Kita Bahagia
Jadikanlah Cerita
Kita Berdua
Untuk Selamanya
Oh

Di album Free Your Mind Repackage, saya dibuat tergila-gila degan lagu Dia, yang sekaligus menjadi soundtrack film Claudia/Jasmine.

Dia... melihatku apa adanya... seakan ku sempurna.

Selain musiknya yang santai, lirik yang mantab, saya juga dimanja dengan video clipnya yang -entah mengapa- saya suka. Sampai-sampai saya mendownload videonya di Youtube. Fuh...

Ramadhan tahun lalu saya dibuat kaget. Saat seluruh radio dipenuhi dengan lagu-lagu religi-latah-sama-Gigi, tiba-tiba saya disejukkan dengan sebuah lagu religi yang sangat universal (dapat dinikmati oleh semua orang, termasuk non-muslim). Yang liriknya berbunyi:

Buka mata, hati telinga
Sesungguhnya, masih ada yang lebih penting
dari sekedar kata cinta...

Sangat universal bukan? Lagu itu langsung saya search di google dengan mengetikkan bait tersebut. Ternyata itu single religinya Maliq d'Essentials yang berjudul Mata Hati Telinga. Maaf sekali Ungu, tapi single religi kalian sangat tidak ada apa-apanya...

Lantas keluarlah album Mata Hati Telinga. Saya punya satu albumnya. Soal aseli atau bajakan, Rahasia, ya! hehehe...

'Pilihanku', menjadi lagu yang -menurut saya- sangat fun. Meskipun romantis, tetapi dipengaruhi oleh video klipnya yang fun, saya jadi merasa lagu ini sangat fun (and cool)!

Maukah kau 'tuk menjadi pilihanku
Menjadi yang terakhir dalam hidupku

***

Ah lagu-lagu Maliq d 'Essentials tanpa terasa telah menjadi soundtrack hidup saya. Saya orangnya memang sok nge-jazz, sok nge-soul, dan sok nge-blues. tapi yang membuat saya jatuh hati dengan band ini bukan masalah itu. Entah mengapa lirik setiap lagunya sangat mengiringi kehidupan saya. Termasuk lagu Coba Katakan yang saya dengar di radio beberapa hari yang lalu.

Lagu Coba Katakan sendiri menurut saya menjadi sebuah lagu sedih, yang sama sekali tak terdengar sedih. Jangan samakan lagu sejumlah band "tertentu" yang cengeng. Atau bahkan sejumlah band yang lagunya tidak sedih tapi sukses membuat saya menangis tak tahan. Hehehe...

Saya mengakui lagu-lagu Maliq sangat menjadi soundtrack hidup saya bahkan membantu dalam proses pendewasaan saya. Saya bukan fans berat Maliq d'Essentials. Tetapi saya adalah orang yang tidak sabar menunggu karya-karya mereka...

***
Aduh, tiba-tiba saya ingin:
Jalan-jalan.
Menulis Blog.
Membuat karya.
Jalan-jalan.
Menulis Blog.
Saya ingin keluar dari rutinitas!

Ada yang mau jalan-jalan?


Minggu, 30 Agustus 2009

Kotakmusik Coklat

Entah mengapa saya hanya ingin memasukkan list 5 lagu yang sedang sering saya dengarkan minggu ini:

1. James Morrison - You Give Me Something


2. Adele - Chasing Pavements


3. Jamie Cullum - Everlasting Love


4. Sara Bareilles - Love Song

5. Michael Jackson (ft. Siedah Garrett) - I Just Can't Stop Loving You

Bukan resensi? bukan! ini hanya list saja. Karena saya tidak terlalu bisa mereview musik atau lagu. Tapi kalau kamu mau mencoba mendengarkan lagu-lagu di list kotak musik saya, silakan! atau jangan-jangan kamu sudah mendengar semuanya? karena ini semua memang bukan lagu baru...

Konon, musik mampu menggambarkan suasana hati seseorang. Ada yang mau menebak suasana hati saya? hehehe,,,

____________________________________________________________________________
Image resource:
images.uulyrics.com/
ecx.images-amazon.com/
wikimedia.org/
991.com

Minggu, 28 Juni 2009

Seven Days in A Sunny June



Hah, sudah sebulan lebih saya tidak memberi makan hewan peliharaan saya. Pasti si Kotak Coklat sudah kelaparan. Aduh, tapi saya belum bisa memberinya makanan bergizi. Sudah lama saya tidak melakukan perjalanan. Sudah lama juga saya tidak membuat review film. Sepertinya saya Cuma punya postingan curhat, nih!

Mmm... saya mau cerita minggu tenang kemarin (8-14 Juni), ah. Di mana seharusnya saya menjalani ketenangan sebelum ujian, tapi ternyata malah harus menjalani sejumlah situasi yang membuat tujuh hari tersebut menjadi tidak tenang.

Sepertinya saya harus pinjam judul lagunya jamiroquai untuk menggambarkan minggu tenang ini: Seven Days in Sunny June.

***

Selasa minggu tenang kemarin saya jadi pemandu sebuah diskusi film Equilibrium. Saya diajak sama teman-teman Litbang EQ sekitar dua minggu sebelumnya. Saya setuju saja, sih. Selain buat tambah pengalaman, toh diskusi film juga sifatnya nggak terlalu formal.Tapi saya sedikit kaget sewaktu tahu bahwa film yang akan ditonton adalah: Little Miss Sunshine!

Weiks, saya senang sekaligus takut. Memang Little Miss Sunshine adalah film favorit saya, film yang mengubah hidup saya. Tapi saya takut, soalnya film ini bukan film yang gampang diterima oleh semua orang. Salah-salah malah jadi film yang bikin boring. Sempet minta ganti film ke Litbang EQ, tapi mereka maksa tetep Little Miss Sunshine. Fuh...

Ah, sampai hari H saya tidak tahu apa yang harus didiskusikan dari film ini. Habis film ini hanya berisi tentang motivasi hidup yang disampaikan dari tiap karakter dan tiap permasalahan. Keadaan jadi lebih buruk ketika ternyata Anak-anak Litbang salah pinjem DVD bajakan, subtitlenya pun sedikit kacau. Quotes favorit saya pun berubah: Jika aku menginginkan lalat, aku bisa menemukan jalan untuk lalat... (If I wanna fly, I’ll find the way to fly). Aaarrrgghh...

Dugaan saya terbukti, sejumlah teman memang tertawa pada adegan tertentu, tapi porsi menguap mereka jauh lebih banyak. Diskusinya? Yah, Lancar-lancar gimana gitu. Habis pada pasif semua, pada bingung apa yang mau ditanyakan dan dikritisi. Mau nggak mau saya yang harus lebih banyak ngomong (ngalor ngidul). Tak apalah, yang penting selesai jadi pemandu saya dapet roti kotak dan sebotol Aqua (biasa diberikan ke pematik diskusi atau semacamnya).

Ah, saya jadi terharu, ini pengalaman pertama saya, kapan lagi saya bisa memandu sebuah diskusi film bareng?

Selesai diskusi saya langsung pulang. Tak peduli apa-apa lagi. I hate everyone! Hahaha...

***



Minggu tenang kemaren saya juga ditawari kakak untuk jualan kaos buat event Final Kontes Robot Indonesia. Karena belum pernah ada pengalaman sama sekali soal jualan kaos, bolehlah saya terima tawaran buat tambah-tambah pengalaman. Kaosnya sendiri yang bikin kakak, dari Surabaya. Di sini saya tinggal negosiasi untuk dapet stand di pameran Robotnya, trus tinggal jualan pas hari H. Sekedar info, jumlah kaos yang harus kita jual ada 37 buah.

Saya mengajak dua kawan saya, Zulfan dan D.A sebagai partner. Bukan apa-apa, soalnya mereka berdua sama-sama ada tujuan ke Sempu liburan nanti. Jadinya nanti keuntungan yang kita dapet bakal kita pake buat tambahan biaya ke Sempu.

Stand kita bentuknya paling sederhana. Stand lain pada masang banner dan memamerkan produk-produknya di kaca etalase, stand kita cuma pake satu meja dan dua kursi saja, fuh...

Hari pertama target kita cuma balik modal saja. Tapi ternyata susah juga. Soalnya setiap kali ada yang mau beli, selalu ada saja alasan untuk nggak jadi. Ada yang minta warna lain, ada juga yang minta ukuran buat anak-anak. Tapi yang bikin kita seneng setengah mati, pas ada rombongan dari Padang yang borong kaos 11 buah! Waaa... senangnya!

Hari kedua kami tinggal jual sisanya. Pelan-pelan tapi pasti, akhirnya kaos kami tinggal tersisa 1 buah. Nah, saat itulah kami ditemani satu orang teman lain lagi, yaitu Dini Anggita. Awalnya, sih dia cuma pengen nemenin kami sekaligus masuk pameran gratis. Tapi di dalem pameran ternyata dia ngiler liat sebuah boneka Mario Bros seharga 35.000 rupiah yang dipasang di stand penjualan mainan. Dia sempet merengek-rengek ke kami buat beli si Mario itu. Ya nggak mungkin, lah! Hahaha..

Akhirnya kami ngasih kaos sisa itu ke Dini. Kaos itu kaos sample, yang dari tadi sudah dibuka-buka buat contoh, malah sempet dicoba dipake sama beberapa orang. Nah, kalau Dini bisa ngejual kaos itu, hasil penjualan kaos itu boleh dipake dia buat beli si Mario Bross. Akhirnya dengan segala cara, Dini terus berusaha menjual kaos itu. Ajaib! Kaos itu terjual seharga 30.000 rupiah. dan Dini pun maksa kami buat patungan 5.000 rupiah sebelum dia akhirnya ngacir buat beli boneka Mario Bross. Weiks!

Hari kedua Jam 3 kaos kami terjual habis, kami tinggal menghabiskan waktu di dalam pameran dengan bersenang-senang. Ditambah lagi D.A ikut lomba karaoke. Lengkap sudah...

Ini pertama kalinya saya menjual suatu barang, wajar kalau awalnya saya takut. Tapi ternyata segalanya melebihi ekspektasi saya. Kaos terjual habis, Dini berhasil menjual kaos terakhir, D.A ikut lomba karaoke, bertemu sejumlah teman (Fu, Hesti, dll.), bahkan bertemu teman SMA yang kuliah di Bandung (Dabz). Bolehlah, lain kali jualan lagi, hahaha...

***

Seven Days in Sunny June, selama minggu tenang itulah saya mencoba dua hal baru, yang entah nantinya akan berguna atau tidak. Tapi saya merasa, suatu waktu nanti saya harus selalu mau mencoba berbagai hal baru lagi.

Sebab dalam setiap hal baru yang telah kita coba, satu pengalaman baru akan kita dapatkan, satu ilmu baru akan kita raih, dan satu cerita baru akan kita ukir.

Minggu, 31 Mei 2009

Antara ProArt dan KotakCoklat 'ers of Every Month


Sekitar sebulan yang lalu saya membuat sebuah poster anggota ProArt. Poster ini merupakan peranakan dari waktu luang dan hasrat membuat desain karakter yang terpendam dalam waktu yang cukup lama. Butuh total sekitar tiga jam untuk membuat keseluruhan kasarnya. Secara teknik jujur saja saya hanya mengandalkan copy-paste. Tapi yang paling mengasyikkan, dalam membuat satu karakter saya berusaha mengingat karakter masing-masing setiap orang. Seperti Mega-Berto-Bimo yang matanya seperti orang mengantuk, Gabby yang memakai sweater, dsb.

Dan begitu selesai, saya merinding. Nggak nyangka bisa bikin poster sekeren ini! (maaf, ya! muji diri sendiri, nih. Hehehe...)


***

Saya sendiri baru bergabung di Divisi Produksi dan Artistik Equilibrium awal Januari 2009 lalu. Sebelumnya saya berada di Divisi Redaksi. Bisa panjang kalau saya harus menceritakan alasan melakukan perpindahan ini. Intinya dengan melakukan sejumlah pertimbangan, saya merasa bisa memberi kontribusi lebih besar dalam membangun Equilibrium melalui divisi ProArt.

Setelah bilang ke bos Iqbal (Pimpinan Umum), ternyata dia memberi saya sebuah free pass untuk masuk ke Divisi ProArt. Tanpa tes, tanpa magang. Horeee...!


Bergabung di Divisi ini menjadi pengalaman unik tersendiri bagi saya. Kebetulan saya dan teman saya, Gerry, menjadi Penanggung Jawab buletin EQ News yang terbit setiap bulan. Dari sini saya mengalami banyak hal. Lembur semalaman me-layout EQ News di rumah Mega (Pimpinan ProArt), mengedit bareng Will (PimRed),hingga dapet kritikan dan pujian soal layout. But, It’s fun! Saya sangat menikmatinya.


Bergabung di ProArt juga berarti bergabung dengan orang-orang yang hebat.


Sebagai contoh, saya sempat berbagi ilmu dengan Mega tentang cara membuat ilustrasi vektor. Guess what? Dua tiga hari kemudian dia langsung membuat satu ilustrasi vektor penuh yang membuat saya ngiler akan kedetailannya. Bos Mega memang hebat!


Tiga hari yang lalu Gerry bela-belain dateng ke kos saya jam 12 malem buat konsultasi Logo Equality yang elegan. Kita sih akhirnya cuma diskusi sebentar. Tapi melihat logo buatannya yang terbaru, boleh juga! Gerry itu sebenernya jago, sayang dia kurang wacana tentang desain. Coba dia lebih banyak lihat majalah desain seperti Concept, pasti langsung mantab! Begitu juga sama anak-anak desainer grafis yang lain (Putri, Wana, Lingga, dan saya). Yuk, kapan-kita diskusi informal bareng tentang desain...


Anak-anak fotografi sudah kaya Pro semua, tapi yang makin bikin salut, mereka masih mau terus belajar. Kagum aja lihat KinKin yang bela-belain ke Solo buat workshop tiga hari. Ajak yang lain, Kin! Semangat belajarmu oke punya!


Kalo dari ilustrator, paling kaget sama Berto. Dia cerita ke saya kalo dalam pembuatan ilustrasi dia selalu membaca habis artikelnya dan berusaha memahaminya, lalu ia menerjemahkannya ke dalam bahasa ilustrasi. Dan baginya menerjemahkan ke dalam Ilustrasi bukanlah perkara yang gampang. Yups, gue suka gaya lo! ProArt yang lain harus mencontoh Berto, ya!


Kadang ada satu-dua kali candaan kalau Divisi ProArt itu divisi kacung. Dari luar sih, kita ketawa aja. Tapi Bos Mega pernah bilang ka saya kalau ternyata candaan tersebut sempat nusuk.


Ya, sudah, kita cuma bisa membuktikan saja kalau Divisi ProArt itu bisa menjadi divisi yang profesional dan mandiri. Caranya? Ya dengan meningkatkan kinerja dan kualitas karya, dong! Bangga juga saat open house Equilibrium tadi malam bos Iqbal sempet bilang kalau sekarang divisi ProArt sudah mempunyai kekuatan baru... Yeah!


***

Oh, ya. Tadi malam saya mendapat anugerah EQ-ers of the month. Seneng? Ya, dong! Surprise? Nggak, soalnya bos Mega pernah keceplosan ngomong ke saya, hehehe... bos saya memang nggak beres!


Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan soal ini:

  • Sampai sekarang saya tidak tahu mengapa dapet penghargaan ini, jangan-jangan hasil kocokan...
  • Saya menerima penghargaan ini dengan rasa bersalah, karena saya terkadang masih suka bolos diskusi, membuat kotor EQ, melakukan kesalahan dalam membuat layout, hehehe...
  • Sayang banget para anggota dewan pengurus (DP) EQ tidak dapat menerima anugerah ini. Padahal kinerja mereka jauh lebih gila daripada saya. Jadi KotakCoklat akan memberikan mereka gelar KotakCoklat-ers of every month selama mereka menjabat sebagai DP Equilibrium. Khususnya buat bos Mega. Hehehe...
  • Kalau penilaian EQ-ers of the month berdasarkan kinerja awak EQ, pasti teman-teman dari dewan pengurus kebingungan karena teman-teman yang lain juga memiliki kinerja yang baik. Oleh karena itu kriteria penilaian pasti diubah dari kinerja menjadi ketampanan. Dan yang terpilih pun saya, hehehe...
***

Ah, saya jadi kembali teringat pada topik awal. Saya bisa masuk Divisi ProArt dengan menggunakan free pass dari Iqbal. Siapa coba yang tidak suka diberi free pass? Tapi saya sadar, bahwa di balik free pass tersebut termuat berbagai hal. Free pass tersebut adalah amanah sekaligus kepercayaan yang diberikan oleh Iqbal kepada saya. Dengan Free Pass tersebut juga sejumlah pihak mempertanyakan kredibilitas saya yang masuk divisi ProArt tanpa tes dan tanpa magang.

Tapi saya berharap, EQ-ers of the month yang saya terima bisa menjadi sebuah pembuktian, bahwa saya tidak akan pernah menyia-nyiakan free pass yang pernah bos Iqbal berikan kepada saya. Bahwa kepindahan saya bukan sekedar permainan, tetapi tulus ingin membangun EQ dari sisi ProArt.


Akhir kata, seperti yang tertera di poster, divisi ProArt memiliki kepanjangan baru:


When Professionalism meets aesthetics and creativity.


Dengan tiga aspek di atas, mari kita buktikan kalau kita bukan sekedar divisi kinchung, hehehe... (sori, kin!)

Minggu, 17 Mei 2009

Kacang


Apa yang lebih buruk daripada menunggu lama sebuah pesanan makanan di tempat makan? Yups, yang terburuk adalah jika selain menunggu lama, kita mendapat bonus kacang, alias dikacangin, alias dilupakan sebagai konsumen. Dan saya mendapatkan tiga kacang sekaligus dalam dua minggu terakhir ini. Saya hanya bisa berteriak AFUUUUU... (umpatan gaya teman saya, Ian)

***

Sekitar dua hari yang lalu, saya bersama teman kos saya, Wildan, makan di warung langganan dekat kos kami. Nama warungnya BaBeGue, dan menu favorit kami adalah nasi goreng gulung. Tempatnya bersih, nyaman, dan harganya cukup terjangkau. Menunya bervariasi, ada nasi goreng gulung, kakap filet krispi, jamur goreng krispi, dsb.

Saat makan malam, BaBeGue cukup padat pengunjung. Kami memesan dua nasi goreng gulung, dan menunggu sambil membaca komik sewaan.

15 menit berlalu, pesanan tak kunjung datang. Awalnya saya memaklumi karena padatnya pengunjung. Setelah beberapa saat kemudian datanglah mbak pelayan membawa satu nasi goreng gulung. Sip, pesanan telah datang! Tapi saat itu juga saya langsung gondok, karena nasi goreng gulung tersebut diserahkan kepada seorang wanita yang baru datang 5 menit yang lalu!

Tapi karena ini merupakan tempat makan langganan saya, dan ibu pemiliknya juga sangat baik, kami hanya cukup melaporkan, dan kami segeran dilayani dengan cukup cepat. Usut punya usut, ternyata catatan pesanan kami terselip di balik wajan penggorengan. Huh!

***

Kacang paling aneh saya dapatkan dua minggu lalu saat sarapan soto kaki lima di stasiun Purwosari bersama dua teman saya, Mbak Dini dan Koplak. Pelayanan dari pedagangnya sangat aneh, kalau tidak mau dibilang buruk.

Sekitar menunggu 5 menit ditemani teh hangat, datanglah satu mangkuk soto dan diserahkan ke Koplak, karena sepertinya ia sudah kelaparan. Mangkuk kedua entah mengapa cukup lama datangnya. Saat mbak-mbak datang membawa satu mangkuk soto lagi, mbak Dini mengalah dan soto tersebut diserahkan ke saya.

Baru mau melakukan suapan pertama, Ibu pedagang soto datang dan merebut (Iya, MEREBUT!) mangkuk soto saya dan menyerahkannya kepada pengunjung lain sambil memarahi mbak-mbak yang memberikan soto ke saya tadi.

Saya melongo.

Saya nggak tahu mengapa jalan ceritanya seperti ini. Dan saya nggak tahu harus berbuat apa.

Sementara pengumuman kereta Wonogiri telah tiba, kami bergegas menuju stasiun. Koplak kekenyangan setelah mendapatkan satu mangkuk soto, Mbak Dini kelaparan karena belum mendapatkan satu mangkuk soto, sementara saya gondok karena hanya bisa melihat semangkuk-soto-siap-makan di depan mata saya!

***

Kacang terbaru saya dapatkan tadi malam. Awalnya saya bersama dua teman kos saya, Mas Vincent dan Wildan, lagi ngidam makan mie ramen. Awalnya pengen makan mie ramen di daerah Jakal Km 11. Sayangnya stoknya sudah habis. Akhirnya kami segera menuju warung ramen bernama Sam****. Warung tersebut masih baru dan kami baru pertama kali ke sana.

Sepertinya bakal asyik, karena di dinding ada tulisan diskon 30 persen selama masa promosi. Tidak ada variasi rasa. Hanya ada satu macam ramen. Akhirnya kami memesan tiga porsi ramen biasa dan tiga gelas Es Teh.

15 menit menunggu, kami sempet bercanda kalau jangan-jangan kami bakal mendapatkan kacang lagi. Dan ternyata candaan kami menjadi nyata, setelah Mas Vincent menyadari kalau pesanan kami dilompati oleh 5 pesanan orang lain!

Saya langsung menagih 3 ramen. Tapi tak kunjung datang.

Saat pelayan lewat. Mas Vincent menagih lagi. Tapi pelayannya bilang “Ramennya Habis.”

Kami bertiga langsung gondok kuadrat.

Saya lantas ke dapur ramen untuk melakukan komplain. Empat orang karyawan memandang saya semua dengan takut dan rasa bersalah. Karena saya nggak bisa marah, saya cuma menanyakan,”Bagaimana ini? Saya nggak tahu harus ngomong apa, saya nggak bisa marah!”.

Mereka berkali-kali minta maaf. Mereka bilang akan menyampaikan keluhan ini ke bos mereka.

Karena saya nggak bisa marah, saya cuma minta Es Tehnya digratiskan sebagai ganti rugi. Dan mereka pun menggratiskan Es Teh sambil minta maaf.

Meskipun kacang yang terakhir tidak seaneh kacang saat makan soto di Purwosari, tetapi meninggalkan kesan tersendiri karena ini merupakan komplain pertama kali yang saya lakukan dalam hidup saya, hehehe...

***

Pesan terakhir, kalau teman-teman coklat membuka sebuah usaha:

Jangan jadi kacang lupa pada kulitnya.

Artinya jangan jadi pemilik warung yang ngacangin pembelinya, ya! Hehehe...
____________________________________________________________________
foto: kapanlagi.com