Sabtu, 26 Februari 2011

Wildlife Management

Saya tidak pernah bilang kalau saya memiliki passion untuk melakukan outdoor activities. Percayalah kawan, saya adalah 99% anak rumahan, yang bisa bertahan hidup asalkan ada sebongkah televisi berwarna dengan minimal 10 channel dan setidaknya ada 3 jenis snack yang berbeda setiap harinya. Saya ingat betul, terakhir kali saya doing something di luar ruangan adalah saat saya KKN antar semester kemarin. Sisanya selama 6 bulan terakhir ini saya mengejar sejumlah target akademis yang, Alhamdulillah, saya berhasil mencapai target tersebut. Meskipun, sedari dulu saya sangat menyadari bahwa mengejar tujuan akademis bukanlah segala-galanya. Terbukti ada sesuatu yang saya rindukan dalam 6 bulan terakhir ini.

Maka, menjadi sebuah angin segar bagi saya ketika seminggu yang lalu saya mendapatkan ajakan dari teman saya, Munadi, untuk mendaki Gunung Lawu bersama kedua teman saya yang lain, Indra dan Satria. Hell yeah, dengan mantap saya menerima ajakan tersebut. Sudah pasti saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. This will gonna be fun, gumam saya dalam hati. Padahal saya tidak tahu kalau nantinya pendakian ini akan menjadi sebuah mimpi buruk yang menyenangkan.

Pendakian di Gunung Lawu ini akan menjadi pendakian pertama dalam hidup saya. Selain itu, hal lain yang menarik adalah kami berempat (saya, Munadi, Indra, dan Satria) sama-sama berasal dari Jurusan Manajemen, namun masing-masing dari kami mewakili empat konsentrasi yang berbeda. Saya sendiri dari manajemen pemasaran, Munadi dari manajemen keuangan, Indra dari manajemen sumber daya manusia, dan Satria dari manajemen operasi. Sepertinya akan sangat menarik jika melihat pendakian ini dari masing-masing perspektif konsentrasi yang kami ambil. Terkesan lebay mungkin. Tapi, hey, kami berempat adalah mahasiswa tingkat akhir yang tak lama lagi akan memasuki kejamnya dunia yang sebenarnya. Jadi tak ada salahnya kami menjadikan pendakian ini sebagai pijakan awal untuk menuju ke sana, bukan?

Pendakian ke Gunung Lawu ini hanya memakan waktu 3 hari 2 malam (20-22 Feb 2011). Namun entah mengapa bagi saya itu menjadi perjalanan yang panjang. Sehingga saya berencana menuliskan pendakian ini ke dalam empat bagian cerita pendek. Cerita, lho, bukan artikel perjalanan. Jadi jangan kaget kalau nanti tulisan saya cenderung deskriptif daripada informatif.

Part 1: Minggu, 27 Feb 2011
Part 2: Senin, 28 Feb 2011
Part 3: Selasa, 1 Mar 2011
Part 4: Rabu, 2 Mar 2011

Sepertinya ini akan terasa berat bagi saya. Sudah sekian minggu saya tidak menulis blog. Apalagi belakangan ini saya diserang penyakit malas. Skripsi tak kunjung dimulai (baru minggu depan), malah maraton nonton How I Met Your Mother. 

Tak apalah, saya coba saja. Sepertinya akan menjadi cerita yang panjang...



Jumat, 21 Januari 2011

Jajanan Pasar


source: google

Ada yang menarik pada topik utama Kompas hari minggu kemarin. Mereka mengangkat tema jajan pasar sebagai topik feature utama. Bagi saya topik tersebut sangat istimewa, karena saya sendiri adalah penggemar berat jajan pasar. Tidak percaya? Ajak saya ke pasar terdekat. Pasti dengan mudahnya saya mencomot jajanan pasar yang ada, hehe...

Jika saya telusuri, ternyata kebiasaan makan jajanan pasar tumbuh dari waktu sarapan pagi saya. Hampir setiap pagi ada tukang sayur langganan lewat di depan rumah. Ibu selalu berbelanja bahan masakan dan bumbu dapur untuk menu sehari, plus sejumlah jajan pasar sebagai teman sarapan pagi. Tradisi secangkir kopi atau segelas susu plus jajanan pasar merupakan salah satu yang saya rindukan jika saya pulang kampung saat libur kuliah.

Di jogja, saya sendiri jarang makan jajanan pasar. Tapi saya selalu menyempatkan beli satu-atau dua potong saat saya ke kantin Fisipol atau ke bonbin. Pernah suatu kali saya bersama seorang teman rela ke Pasar Kranggan untuk membeli jajanan pasar. Dengan bermodal uang sepuluh ribu, kami mencomot sekitar 7-8 jajanan pasar. Saya puas.

Bagi saya, jajanan pasar itu unik dan eksotis. Saya suka bentuknya yang aneh-aneh. Rasanya juga aneh, tapi enak. Selain itu, bentuknya yang kecil membuat gampang habis sekali makan. Jajan pasar favorit saya diantaranya kue isi kacang hijau (saya tidak tahu namanya), klepon, kue lupis, dan kue kukus. Saya kurang suka jajanan pasar yang dibuat dari ketan, khususnya wajik, bagi saya makan ketan itu terasa penuh dan membosankan.

Saya nggak mau sok nasionalis dengan mengatakan jajanan pasar sebagai bagian dari tradisi, bla, bla, bla. Tapi saya akui kalau memang pada dasarnya jajanan pasar itu enak. Jauh sebelum kafe modern menyajikan roti yang di dalamnya ada coklat meleleh (apa, ya namanya?), kakek nenek kita sudah menerapkannya dalam klepon. Hey, gula jawa yang meleleh dalam bola bulat yang ditaburi serutan kelapa itu lezatnya eksotis, lho! Hahaha...

Akhir kata, ayo ke pasar. Bawa uang sepuluh ribu. Dan comot jajanan pasar.

Jumat, 31 Desember 2010

That's Life

That's life, that's what all the people say.

You're riding high in April,

Shot down in May

But I know I'm gonna change that tune,

When I'm back on top, back on top in June.

(Frank Sinatra)

 

Lima jam sebelum tahun baru, dan tiba-tiba saya ingin menulis sambil menoleh ke belakang. Entah kapan terakhir kali saya menulis langsung seperti ini. Padahal baru baris kedua, tetapi saya berkali-kali memencet tombol backspace dan menulis ulang. Percaya, deh, meskipun saya bukan seorang penulis, namun terasa sekali perbedaan ketika dulu saya sering menulis ini itu dengan sekarang yang enam bulan terakhir ini saya tak menulis selain untuk tugas kuliah. Jemari terasa kaku. Pikiran pun terasa buntu. Saya seperti zombie yang sedang menulis.

Saya sedang menulis sambil menoleh kebelakang. Dan tiba-tiba saya jadi merinding sendiri. Sederhana saja, tahun 2010 ini termasuk salah satu tahun terkelam dalam hidup saya. Yup, satu-dua kejadian yang tidak enak, plus erupsi merapi, plus kalahnya timnas, plus saya sendiri yang lebay dan suka mendramatisir, lengkap sudah tahun 2010 saya yang kelabu.

Saya orangnya tidak bermental baja. Tapi saya bermental kasur. Jadi kalau ada sejumlah masalah kecil, tinggal saya bawa tidur, dan besoknya saya sudah sembuh. Saya masih ingat di tahun ini saya dimarahin bapak-ibu gara-gara saya telat bayar SPP. Saya ingat juga di tahun ini saya dipermalukan seorang dosen gara-gara teman sekelompok saya tidak masuk, tapi ada tanda tangan, dan saya yang kena marah di depan kelas. Saya juga ingat kalau di tahun ini saya mencoba mengapply sejumlah beasiswa dan gagal. Tapi kesemua itu hanya kebodohan kecil yang suatu saat bisa saya ceritakan ke teman saya sambil tertawa-tawa. Saya percaya, kalau cerita buruk di hari ini bisa jadi cerita lucu di hari esok.

Tapi saat saya menoleh ke belakang, ada banyak hal yang tidak sesepele itu. Ada hal-hal yang jika saya bawa tidur dengan mental kasur saya, justru akan berujung ke mimpi buruk. Tentu saja cerita tersebut tidak akan bisa menjadi cerita lucu di hari esok.

Hingga saat ini saya masih menyesali tindakan saya yang berusaha untuk menjadi sendiri –bukan mandiri. Saat itu saya berpegang teguh bahwa manusia adalah makhluk anti sosial (entah apa artinya, tapi saya pikir anti sosial itu keren, haha..). Mungkin saat itu saya tengah jenuh dengan komunitas. Mungkin saat itu pula saya sedang sok mencari jati diri. Saya tambahkan aksi saya dengan men-deaktivasi akun facebook saya dan tak lagi menulis di blog. Cool! Saya menjadi makhluk anti sosial seketika. Dan saat itu pula saya langsung mengalami kesepian yang begitu mendalam. Saya kapok.

 Bagi yang ingin mencoba. Saya sarankan jangan sekali-kali. Karena ternyata pepatah mati satu tumbuh seribu tak berlaku sama sekali di dalam kehidupan sosial. Saya seperti burung yang terbang dari sangkar, tapi saya tak pernah lagi bisa kembali ke dalam sangkar. Saya sempat menghidupkan kembali akun facebook saya, dan bukannya memperbaiki jejaring sosial saya, saya malah kecanduan main FarmVille, ya sudah saya matikan lagi, haha...

Tahun 2010 semakin diperparah dengan menurunnya produktivitas saya. Saya tidak pernah bilang saya produktif. Saya tidak pernah punya karya ini itu. Tapi sebelum-sebelumnya saya selalu doing something. Hal-hal kecil atau apaaa... gitu. Tapi tahun ini saya mati. Kamera pemberian kakak saya tergantung di sudut kamar saya 4 bulan terakhir (Sorry, mas!). Mouse saya rusak dan coreldraw saya tak pernah dibuka beberapa bulan. Wow, jika anti-produktif adalah sebuah prestasi, pastilah saya menjadi mahasiswa berprestasi 2010, haha..

Saat erupsi merapi dosa saya semakin bertambah. Saya lebih memilih kabur pulang kampung daripada menjadi relawan. Padahal kakak saya yang baru pulang dari Papua justru ke Jogja untuk menjadi relawan. Sejak saat itu saya dihantui oleh sindiran-sindiran orang tua saya,”Kamu kok nggak jadi relawan?” Saat itu juga saya merasa menjadi orang yang paling tidak punya hati.

Rasa-rasanya hampir nangis setiap melihat mimpi-mimpi buruk saya selama ini. Untungnya saya tidak pernah benar-benar menangis kecuali saat menonton Toys Story 3 yang sukses membuat air terjun dari mata saya. Untungnya saya sangat dibantu dengan foto ini:


Teman saya yang memotret saya saat KKN. Entah mengapa setiap melihat foto tersebut saya menjadi merasa berarti (padahal di foto tersebut saya main-main). Saya merasa pasti ada suatu tempat di mana saya menjadi manusia yang berarti. Mungkin tempat itu bukan tempat saya sekarang ini.

Oh, ya. Di penghujung tahun ini ada sebuah percakapan antara kakak saya dengan Teguh Sudarisman yang dishare dalam blognya, hifatlobrain. Jarang-jarang lho saya memberi link ke blog kakak saya, apalagi di tahun 2010 ini saya menderita penyakit Brotherhood Jealously. Tapi entah kenapa percakapan tersebut menjawab beberapa pertanyaan yang selama ini saya cari-cari (mungkin jawaban pertanyaan saya ada di Al-Qur’an, tapi saya jarang baca Qur’an apalagi terjemahannya, hehe...). Percakapan tersebut menurut saya bukan sekedar mengenai travel writing, backpacking, atau resolusi foto. Bagi saya percakapan tersebut adalah bagimana kita harus menjadi berbeda dan percaya diri, melihat detail dari perspektif lain, hingga bagaimana kita menikmati hidup dengan keluar dari rutinitas.

Empat jam lagi menuju tahun baru. Saya belum membuat resolusi dan sepertinya tidak akan pernah membuatnya. Resolusi cuma bikin sakit hati kalau tidak tercapai. Cukuplah motivasi saya muncul secara spontanitas saja.

Tahun 2011 seperti apa, ya? Entahlah. Kalau bagus ya Alhamdulillah, kalu buruk ya jalani saja. That’s Life!

Rabu, 02 Juni 2010

Happy Ending

Ending seperti apa, sih yang kamu suka? Ending yang tidak tertebak? Ending yang menggantung? Atau ending yang “aman-aman” saja? Mungkin kalau di dalam film, setelah kita menonton selama 2-3 jam, dan kita akan langsung disuguhi endingnya. Terlepas dari puas atau tidaknya kita terhadap ending tersebut, mungkin efeknya terhadap kita hanya akan terjadi dalam beberapa saat saja. Kecuali kamu benar-benar freak dengan film tersebut, atau film tersebut berseri atau trilogi.

Lah, kalau serial TV? Berbeda dengan film, di serial TV kita dihadapkan pada berpuluh atau beratus episode. Sehingga jika seseorang sudah fanatik dengan cerita serial tersebut, pasti akan terjadi jalinan emosi kuat di dalamnya. Tentunya episode penutup suatu serial akan memberikan kesan dan efek yang lauh lebih dalam dibanding akhir dari sebuah film.

Ah, saya ternyata ngomongnya ngalur-ngidul. Padahal yang saya ingin sampaikan adalah: setelah enam season saya mengikuti serial ini, saya akhirnya menonton episode terakhir dari serial kesayangan saya, LOST!


Cast of LOST dengan gaya ala "The Last Supper"

Man of Faith, Man of Science

Tentu saya tidak akan menceritakan panjang lebar tentang episode akhir serial ini. Tetapi ada beberapa cerita menarik ending serial LOST ini di mata penggemarnya, termasuk saya.

Bagi penggemarnya, ending serial LOST ini termasuk kontroversial. Banyak yang suka. Tapi banyak juga yang berkomentar “Hah, Cuma gini doang?”. Yup padahal kedua-duanya adalah penggemar fanatik LOST!

Jadi begini, sebagai sebuah serial TV ber-genre SciFi Drama, sesungguhnya LOST banyak menawarkan beragam cerita bagi penggemarnya. Baik dari segi dramanya atau dari segi SciFi-nya. Dari segi Drama, dapat diperlihatkan melalui konflik dan cerita kehidupan antar karakternya. Dari segi SciFi-nya, ada beragam misteri dan twist cerita yang benar-benar membuat penasaran untuk terus mengikutinya.

Sayangnya, episode terakhir dari serial LOST hanya memenuhi kepuasan penggemar dari segi Drama-nya saja. Sedangkan berbagai pertanyaan atas misteri yang muncul dari sisi SciFi-nya tidak banyak terjawab. Yang ada justru malah banyak muncul pertanyaan dan misteri baru.

Nah, mereka yang puas dalam ending serial ini adalah mereka-mereka yang lebih mementingkan jalan cerita drama-nya daripada misterinya. Atau mereka yang berharap Happy Ending dari serial ini. Kelompok ini dalam penggemar LOST dimasukkan ke dalam golongan “Man of Faith”. Sedangkan mereka yang pukul-pukul meja setelah menonton episode terakhir ini karena kecewa dimasukkan ke dalam kategori “Man of Science”, yang sebenarnya mengharapkan ending dengan terjawabnya seluruh misteri yang terdapat dalam serial ini.

Bagaimana dengan saya? Hahaha... untungnya saya masuk golongan Man of Faith. Yang sejak awal saya tidak terlalu berekspektasi tinggi dengan episode final serial ini. Saya sudah menduga bahwa misteri dalam serial ini yang seabrek-abrek susah dijawab hanya dalam satu episode terakhir. Yang saya harapkan cuma satu: happy ending yang membuat saya bisa ikhlas berpisah dengan serial kesayangan ini. Dan doa saya ternyata terkabul! Saya sangat dipuaskan dengan endingnya. Dan kini pun saya bisa tidur nyenyak....